Bismillahirrahmanirrahim
Sebenarnya pembagian rapot udah lama sih, tapi tiba-tiba pingin nge-repost note ini aja.
yuuuuk
langsung ajjaaa
Rasa malu bercampur kecewa
Tepatnya tanggal 24 Juni 2010, hari yang dinanti-nanti hanya oleh orang-orang pintar karena saatnya unjuk kepintaran mereka, tidak bagiku yang "biasa-biasa saja"..
Rasanya tak ingin melihat rapot sendiri, firasatku berkata nilai rapotku tahun ini sedikit "bobrok", dan benar saja begitu ku buka rapot, nilai yang paling menarik hatiku untuk melihatnya pertama kali itu adalah nilai Tahfidz (Hifdzon) dan ternyata. Innalillahi nilai yang tak pernah ku dapat sebelumnya. Nilai kurang memuaskan untuk pelajaran favoritku..
Ingin rasanya segera menangis, namun tak ada gunanya juga..
Akhirnya aku bertekad, untuk kelas XII nanti aku akan lebih serius dalam mata pelajaran ini, tentu dalam pelajaran-pelajaran lainnya. Tapi aku akan lebih ekstra berusaha dalam pelajaran yang satu ini..
Doakan yah
25 Juni 2010
Senin, 26 Juli 2010
Nilai Tahfidz
Impiankuuuuu............
Bismillahirrahmanirrahìm
Menurutku semua berawal dari mimpi (impian), betul kan???
setelah bermimpi baru kita merealisasikannya
Kalian punya impian kan?
Yah nggak jauh beda sama kalian, aku juga punya impian. Tapi dari dulu sampai sekarang ada satu pertanyaan yang mengganjal, gimana cara mewujudkannya?
Impianku saat ini
Kuliah di Al-Azhar, di Kairo, Mesir..
Menyelesaikan S-1 dan S-2 di sana lalu pulang ke Indonesia dan mengamalkan ilmu-ilmu yang telah di dapat dari Al Azhar..
Impian ke 2
Mendirikan sekolah, memajukan pendidikan Agama Islam di JaBar bahkan se-Indonesia..
Memajukan Agama Islam dengan mendirikan sekolah, dari mulai RA, MI, Tsanawiyah, Mu'allimin lalu Universitas Tinggi,
Alhamdulillah jika menjadi kenyataan, namun jika tidak mungkin Allah menghendaki jalan lain, jalan yang mungkin lebih indah daripada kuliah di Al Azhar..
Semoga impian kita menjadi kenyataan, tentunya impian itu harus dibarengi dengan usaha dan doa lalu pada akhirnya kita pasrahkan hasilnya pada Allah SWT..
Ayo sama-sama saling mendoakan..
'RASA' itu
Bismillahirrahmanirrahim
Ya Allah
ketika rasa ini menyeruak dalam dada, ketika tak dapat di bendung lagi
Ya Allah lindungilah hamba dari syirik Mahabbah
Bagaimanapun juga aku hanya manusia biasa, saya perempuan biasa yang bisa merasakannya, merasakan ketika 'rasa' itu datang dan perlahan membuat hati berbunga-bunga, dan kemudian selalu rindu pada kekasih hati, meskipun tak pernah ingin ku mengakui perasaan itu ada dalam hatiku, tak pernah ingin berlama-lama memikirkannya
terlalu membuang-buang waktu
aku menunggu waktu itu tiba
ketika seorang ikhwan mengetuk pintu rumahku, bukan untuk bertemu denganku namun dengan kedua orang tuaku, menjelaskan maksud kedatangannya
ah tidak perlu di perpanjang, karena kalian pasti sudah tahu kelanjutannya.
Fitrah manusia yang selalu cenderung pada lawan jenis membuat hati ini selalu mencari Sang Pujaan hati, tak bisa ku pungkiri. Namun, selalu ku tekan dalam-dalam rasa itu, sehingga tak muncul ke permukaan hati lagi..
22 Juli 2010
21 25
Selasa, 20 Juli 2010
Airmata Rasulullah
Lagi lagi Copy Paste
Ini bisa jadi bahan renungan kita semua lho
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.
Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.
Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. "Badan Rasulullah mulai ding! in, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku - peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
NB:
Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita.
Karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka. Amin...
Usah gelisah apabila dibenci manusia karena masih banyak yang menyayangi mu di dunia tapi gelisahlah apabila dibenci Allah karena tiada lagi yang mengasihmu diakhirat.
Selasa, 06 Juli 2010
Belajar Mencintai Orang Yang Tidak Sempurna
CoPaSus alias copy paste tanpa kasus dari salah satu Note temen..
From members of Ahmad Tukiran Maulana Da'i Keliling
By : Ahmad Tukiran Maulana
Belajar Mencintai Orang yang Tidak Sempurna
Kita ada di dunia bukan untuk mencari seseorang
yang sempurna untuk dicintai
TETAPI untuk belajar mencintai orang yang tidak sempurna
dengan cara yang sempurna.
Jikalau kita memancing ikan, setelah ada ikan yang terperangkap di mata kail, hendaklah kita segera mengambil ikan itu. Janganlah sesekali kita melepaskan ia seperti semula ke dalam air begitu saja. Karena ia akan sakit oleh karena ketajaman mata kail kita dan mungkin ia akan menderita selama ia masih hidup.
Begitu juga…
Jikalau kita memberi harapan kepada seseorang, setelah ia menerima dan mulai menyayangi kita, hendaklah kita menjaga hatinya. Janganlah sesekali kita meninggalkannya begitu saja tanpa alasan yang masuk akal. Karena dia akan terluka oleh kenangan harapan dari kita dan mungkin dia tidak dapat melupakan segalanya selama dia mengingat kita.
Jikalau kita telah memiliki sepiring nasi yang baik untuk diri kita, mengenyangkan dan berkhasiat. Mengapa kita lengah dengan mencoba mencari makanan lain yang tampak lebih enak? Terlalu ingin mengejar kelezatan. Kelak, nasi itu akan basi dan kita tidak bisa memakannya lagi. Kita akan menyesal.
Begitu juga…
Jikalau kita telah bertemu dengan seseorang yang akan membawa kebaikan kepada diri kita, shalih atau shalihah. Mengapa kita lengah dengan mencoba membandingkannya dengan yang lain? Terlalu mengejar kesempurnaan. Kelak, kita akan merasa kehilangan apabila dia telah dipilih dan menjadi milik orang lain. Kita juga yang akan menyesal.
Jumat, 02 Juli 2010
Doa Seorang Pembantu Yang Selalu Di Ijabah
Basrah, Iraq. Sudah beberapa lama tak turun hujan. Hari itu belum beranjak siang. Terik matahari mulai terasa. Angin musim kemarau berhembus. Angin kering padang pasir menerpa wajah. Orang-orang mulai kesulitan mendapati air. Demikian juga binatang peliharaan yang kelihatan kurus-kurus.
Hari itu penduduk Basrah sepakat untuk mengadakan shalat Istisqa’. Untuk meminta hujan yang sudah sekian lama tertahan. Shalat itu akan dihadiri para ulama Basrah dan tokoh masyarakatnya. Yang langsung akan dipimpin oleh salah seorang ulama pilihan di antara mereka. Nampak di antara para ulama yang sudah hadir Ulama Besar Malik bin Dinar, Atho’ As-Sulaimi, Tsabit Al-Bunani, Yahya Al-Bakka, Muhammad bin Wasi’, Abu Muhammad As-Sikhtiyani, Habib Abu Muhammad Al-Farisi, Hasan bin Abi Sinan, Utbah bin Al-Ghulam, dan Sholeh Al-Murri.
Benar-benar sebuah sholat Istisqo’ yang istimewa. Dihadiri orang-orang terbaiknya. Tentunya dengan harapan agar ALLAH menurunkan kembali hujan yang ditahan karena dosa-dosa manusia.
Para penduduk nampak berduyun-duyun mendatangi lapangan yang telah ditentukan. Para ulama pun sudah mulai nampak di lapangan itu. Anak-anak kecil yang asyik belajar di tempat pengajian Al-Qur’an mereka, juga nampak berlarian menuju lapangan. Demikian juga para wanitanya. Besar, kecil, laki, perempuan, tua, muda, semuanya tidak ada yang ketinggalan untuk mengikuti sholat. Dengan hanya satu harapan, agar hujan kembali turun.
Sholat dimulai. Dua rokaat sudah. Selesai itu sang imam menyampaikan khutbah dan doa panjangnya. Mengakui segala kelemahan dan kesalahan manusia yang menyebabkan murka ALLAH. Dan mengharap kembali turunnya berkah hujan dari langit. Karena masih ada orang tua dan binatang yang tidak bersalah ikut menanggung akibat dosa sebagian orang. Doa terus dipanjatkan.
Waktu terus beranjak siang. Tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Mendung tak kunjung datang. Langit masih terlihat cerah. Matahari semakin terasa terik. Sholat Istisqa’ selesai. Semua penduduk pulang ke rumah masing-masing. TinggALLAH para ulama yang masing-masing bertanya dalam hati mengapa hujan tak kunjung datang. Padahal telah berkumpul orang-orang baik dan pilihan di masyarakat Basrah.
Akhirnya diputuskan untuk menentukan hari lain. Mengulang sholat Istisqa’ berharap untuk kali ke dua ini, ALLAH mengabulkan doa mereka. Sholat kedua ditentukan. Suasana sholat ketika itu tidak jauh berbeda dengan sholat sebelumnya. Dan kali ini pun belum ada tanda-tanda dikabulkannya doa. Langit masih sangat cerah dengan terik matahari tengah hari. Tanda tanya di hati para ulamanya semakin besar.
Sholat ketiga pun segera menyusul. Semoga yang ketiga inilah yang didengar, begitu harapan mereka. Persis seperti yang pertama dan kedua, sholat yang ketiga pun mempunyai suasana yang sama. Dan ternyata hasilnya pun sama. Hujan masih tertahan entah karena apa. Tanda tanya di hati para ulama Basrah kian menggelayut di dalam hati mereka masing-masing. Tanpa jawaban. Seluruh penduduk dan ulamanya pulang ke rumah dan tidak tahu kapan musim kering itu berlalu.
Tersisa Malik bin Dinar dan Tsabit Al-Bunani di lapangan terlihat berbincang serius. Perbincangan itu dilanjutkan di masjid yang tidak jauh dari tempat itu. Hingga malam datang menjelang. Masjid sudah sepi, tidak ada lagi yang sholat. Karena sudah malam larut.
Tiba-tiba mereka berdua dikejutkan oleh seorang dengan kulit berwarna gelap, wajah yang sederhana, dengan betis tersingkap yang terlihat kecil, dengan perut buncit. Orang itu memakai sarung dari kulit domba, demikian juga kain yang dipakainya untuk atas badannya. “Aku memperkirakan semua yang dipakainya tidak melebihi dua dirham saja,” kata Malik bin Dinar. Yang menunjukkan bahwa orang itu hanyalah orang miskin yang tidak memiliki banyak harta.
Malik bin Dinar mengamati gerak-geriknya, ingin mengetahui apa yang akan dilakukan oleh orang hitam itu di larut malam seperti ini. Orang itu menuju tempat wudhu. Setelah selesai wudhu, seperti tanpa mempedulikan Malik dan Tsabit yang mengamatinya dari tadi, orang itu menuju mihrab imam kemudian sholat dua rokaat. Sholatnya tidak terlalu lama. Surat yang dibaca tidak terlalu panjang. Ruku’ dan sujudnya sama pendeknya dengan lama berdirinya.
Selesai sholat, orang itu menengadah tangannya ke langit sambil berdoa. Malik bin Dinar mendengar isi doa yang disampaikan dengan suara yang tidak terlalu tinggi tapi terdengar. “Tuhanku, betapa banyak hamba-hamba-Mu yang berkali-kali datang kepada-Mu memohon sesuatu yang sebenarnya tidak mengurangi sedikitpun kekuasaan-Mu. Apakah ini karena apa yang ada pada-Mu sudah habis? Ataukah perbendaharaan kekuasaan-Mu telah hilang? Tuhanku, aku bersumpah atas nama-Mu dengan kecintaan-Mu kepadaku agar Engkau berkenan memberi kami hujan secepatnya.”
Setelah mendengar itu Malik bin Dinar berkata, “Belum lagi dia menyelesaikan perkataannya, angin dingin pertanda mendung tebal menggelayut di langit. Kemudian tidak lama, hujan turun dengan begitu derasnya. Aku dan Tsabit mulai kedinginan.”
Malik dan Tsabit hanya bisa tercengang melihat orang hitam itu. Mereka berdua menunggu hingga orang itu selesai dari munajatnya. Begitu terlihat orang itu selesai, Malik menghampirinya dan berkata, “Wahai orang hitam tidakkah kamu malu terhadap kata-katamu dalam doa tadi?” Orang tdai bertanya, “Kata-kata yang mana?” “Kata-kata: dengan kecintaan-Mu kepadaku,” kata Malik. “Apa yang membuatmu yakin bahwa ALLAH mencintaimu?” sambung Malik. Orang itu menjawab, “Menyingkirlah dari urusan yang tidak kamu ketahui, wahai orang yang sibuk dengan dirinya sendiri! Dimanakah posisiku ketika aku dapat mengkhususkan diri kami untuk beribadah hanya kepada-Nya dan ma’rifat kepada-Nya. Mungkinkah aku dapat memulai hal itu jika tanpa cinta-Nya kepadaku sesuai dengan kadar yang dikehendaki dan cintaku kepada-Nya sesuai dengan kadar kecintaanku.”
Setelah berkata itu, dia pergi begitu saja dengan cepatnya. Malik memohon, “Sebentar, semoga ALLAH merahmatimu. Aku perlu sesuatu.” Orang itu menjawab, “Aku adalah seorang budak yang mempunyai kewajiban untuk mentaati perintah tuanku.”
Akhirnya Malik dan Tsabit sepakat untuk mengikuti dari jauh. Ternyata orang itu memasuki rumah seorang yang sangat kaya di Basrah yang bernama Nakhos. Malam sudah sangat larut. Malik dan Tsabit merasakan sisa malam begitu panjang, karena rasa penasarannya untuk segera mengetahui orang itu di pagi harinya.
Pagi yang dinanti akhirnya tiba. Malik yang memang mengenal nakhos itu segera menuju rumahnya untuk menanyakan budak hitam yang dijumpainya semalam. “Apakah engkau punya budak yang bisa engkau jual kepadaku untuk membantuku?” kata Malik bin Dinar beralasan untuk mengetahui budak hitam yang dijumpainya semalam. Nakhos berkata, “Ya, saya mempunyai seratus budak. Kesemuanya bisa dipilih.” Mulailah Nakhos mengeluarkan budak satu per satu untuk dilihat Malik. Sudah hampir semuanya dikeluarkan, ternyata Malik tidak melihat budak yang dilihatnya semalam. Sampai Nakhos menyatakan bahwa budaknya sudah dikeluarkan semua. “Apakah masih ada yang lain?” tanya Malik. “Masih tersisa satu lagi,” jawab Nakhos.
Saat itu waktu mendekati waktu dhuhur. Saat istirahat siang. Malik berjalan ke belakang rumah menuju suatu kamar yang sudah terlihat reot. Di dalam kamar itulah Malik melihat budak hitam yang dilihatnya semalam sedang tertidur lelap. “Nakhos, dia yang saya mau, ya demi ALLAH dia,” kata Malik semangat. Dengan penuh keheranan Nakhos berkata, “Wahai Abu Yahya, itu budak sial. Malamnya habis untuk menangis dan siangnya habis untuk sholat dan puasa.” “Justru untuk itulah aku mau membelinya,” kata Malik. Melihat kesungguhan Malik, Nakhos memanggil budak tadi.
Dengan wajah kuyu, dengan rasa kantuk yang masih terlihat berat budak itu keluar menemui majikannya. Nakhos berkata kepada Malik, “Ambillah terserah berapa pun harganya agar aku cepat terlepas darinya.”
Malik mengulurkan dua puluh dinar sebagai pembayaran atas harga budak itu. “Siapa namanya?” tanya Malik yang sampai detik itu masih belum mengetahui namanya. “Maimun.”
Malik menggandeng tangan budak itu untuk diajak ke rumahnya. Sambil berjalan, Maimun bertanya, “Tuanku, mengapa engkau membeliku padahal aku tidak cocok untuk membantu?”
Malik berkata, “Saudaraku tercinta, kami membelimu agar kami bisa membantumu.” “Kok bisa begitu?” tanya Maimun keheranan. “Bukankah kamu yang semalam berdoa di masjid itu? Tanya Malik. “Jadi kalian sudah tahu saya?” Maimun kembali bertanya. “Ya akulah yang memprotes doamu semalam,” kata Malik.
Budak itu meminta untuk diantar ke masjid. Setelah sampai ke pintu masjid, dia membersihkan kakinya dan masuk. Langsung sholat dua rokaat. Malik bin Dinar hanya bisa diam sambil mengamatinya dan ingin tahu apa yang ingin dilakukannya. Selesai sholat, orang itu mengangkat tangannya berdoa seperti yang dilakukannya kala malam itu. Kali ini dengan doa yang berbeda, “Tuhanku, rahasia antara aku dan Engkau telah Engkau buka di hadapan makhluk-makhluk-Mu. Engkau telah membeberkan semuanya. Maka bagaimana aku nyaman hidup di dunia ini sekarang. Karena kini telah ada yang ketiga yang menghalangi antara aku dan diri-Mu. Aku bersumpah, agar Engkau mencabut nyawaku sekarang juga.”
Tangan diturunkan, budak itu kemudian sujud. Malik mendekatinya. Menunggu dia bangun dari sujudnya. Tetapi lama dinanti tak juga bangun. Malik menggerakkan badan budak itu, dan ternyata budak itu sudah tidak bernyawa lagi.
(Tarbawi, No. 64 Th. 5)
Mimpi Yang Membawa Hikmah
Khalifah Umar bin Abdul Azis pernah gemetar ketakutan. Bukan karena menghadapi musuh di medan pertempuran. Tetapi ketika beliau mendengar cerita tentang alam akhirat.
Semua perbuatan manusia di dunia akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat. Di akhirat kelak setiap manusia akan diperintahkan berjalan melewati jembatan shiratal mustaqim. Manusia akan terlempar ke neraka jika tidak bisa melewati jembatan itu. Sebaliknya, manusia tersebut akan menikmati keindahan surga jika bisa melewati jembatan itu.
Setiap manusia akan menemui kesulitan dan kemudahan yang beragam saat berjalan di atas jembatan shiratal mustaqim. Jika selama hidup di dunia, manusia itu banyak beramal saleh, ia akan mudah melewatinya. Jika tidak, iaakan sulit berjalan di atas shiratal mustaqim. Bahkan, besarkemungkinan iaakan terlempar dan jatuh ke jurang neraka di bawahnya.
Hal itu membuat banyak orang khawatir. Tentu saja. Sebab, kita tidak pernah tahu secara pasti apakah selama di dunia kita tergolong orang yang banyak beramal saleh atau justru banyak berbuat dosa. Nah, perasaan itu juga dirasakan khalifah Umar bin Abdul Azis. Apalagi waktu khalifah Umar bin Abdul Azis mendengar cerita seorang hamba sahaya tentang mimpinya di suatu hari.
Umar bin Abdul Azis tertarik waktu hamba sahaya itu bercerita. “Ya, Amirul Mukminin. Semalam saya bermimpi kita sudah tiba di hari kiamat. Semua manusia dibangkitkan ALLAH, lalu dihisab. Saya juga melihat jembatan shiratal mustaqim.”
Umar bin Abdul Azis mendengarkan dengan seksama. “Lalu apa yang engkau lihat?” tanyanya.
“Hamba melihat satu per satu manusia diperintahkan berjalan melewati jembatan shiratal mustaqim. Penguasa Bani Umaiyah, Abdul Malik bin Marwan, hamba lihat ada di antara orang yang pertama kali dihisab. la berjalan melewati jembatan shiratal mustaqim. Tapi, baru dua langkah, dia sudah jatuh ke dalam jurang neraka. Saat ia jatuh, ubuhnya tak terlihat lagi. Hamba hanya mendengar suaranya. la terdengar menangis dan memohon ampun kepada ALLAH,” jawab hamba sahaya itu.
Umar bin Abdul Azis tertegun mendengar cerita itu. Hatinya gelisah.
“Lalu bagaimana?” ia bertanya dengan gundah.
“Setelah itu giliran putranya, Walid bin Abdul Malik bin Marwan. Ia juga terpeleset dan masuk ke dalam jurang neraka. Lalu tiba giliran para khalifah yang lain. Saya melihat, satu per satu mereka pun jatuh. Sehingga tidak ada yang sanggup melewati jembatan shiratal mustaqim itu,” kata sang hamba sahaya.
Umar bin Abdul Azis tercekat karena merasakan takut dan khawatir dalam dadanya. Sebab, ia juga seorang khalifah. la sadar, menjaga amanah kepemimpinan dan kekuasaan itu sangat berat. Dan ia punyakin, setiap pemimpin harus bisa mempertanggungjawabkan kepemimpinannya. Tidak ada seorang pun yang akan lolos dari hitungan ALLAH.
Jantung Umar seketika berdegub kencang. Nafasnya memburu. Ia cemas, jangan-jangan nasibnya akan sama dengan para pemimpin lain yangdikisahkan hamba sahaya itu. Karena cemas dan takut, Umar bin Abdul Azis meneteskan air mata. Ia menangis.
“Ya, ALLAH. Apakah aku akan I bernasib sama dengan mereka yang dilihat hamba sahaya ini di dalam mimpinya? Apakah aku telah berlaku tidak adil selama memimpin? Pantaskah aku merasakan surga-Mu, ya ALLAH?” bisik Umar bin Abdul Azis di dalam hati. Air matanya kian deras mengalir.
“Lalu tibalah giliran Anda, Amirul Mukminin,” kata hamba sahaya itu.
Ucapan hamba sahaya itu menambah deras air mata Umar bin Abdul Azis. Umar kian cemas. Kecemasan Umar membuat tubuhnya gemetaran. Ia menggigil ketakutan. Wajahnya pucat. Matanya menatap nanar kesatu sudut ruangan.
Saat itu, Umar bin Abdul Azis mengingat dengan jelas peringatan ALLAH SWT, “Ingatlah pada hari mereka diseret ke neraka atas muka mereka. Dikatakan kepada mereka, “Rasakanlah sentuhan api neraka”
Hamba sahaya itu justru kaget melihat reaksi khalifah Umar bin Abdul Azis yang luar biasa. Dalam hati, ia merasa serba salah. Sebab, ia sama sekali tidak punya maksud untuk menakut-nakuti khalifah. Ia sekadar menceritakan mimpi yang dialaminya.
Melihat kepanikan khalifah, hamba sahaya itu lalu berusaha menenangkan Umar bin Abdul Azis. Namun, Umar bin Abdul Azis belum bisa tenang. Maka, hamba sahaya itu pun meneruskan ceritanya dengan berkata, “Wahai, Amirul Mukminin. Demi ALLAH, aku melihat engkau berhasil melewati jembatan itu. Engkau sampai di surga dengan selamat!”
Mendengar itu, Umar bin Abdul Azis bukan tersenyum apalagi tertawa. Ia diam. Cukup lama Umar tertegun. Cerita itu benar-benar membuatnya berpikir dan merenung.
Ada hikmah yang lalu dipetik Umar dari cerita itu. Dan sejak itu, ia menanamkan tekad untuk lebih berhati-hati dalam amanah kekuasaan. Itu adalah amanah ALLAH yang sangat berat.
10 Wasiat Rasulullah Saw.
Ada 10 wasiat RasulullaaHh kepada putrinya Fathimah binti RasulillaaHh. Sepuluh wasiat yang beliau sampaikan merupakan mutiara yang termahal nilainya bila kemudian dimiliki oleh setiap istri sholehah. Wasiat tsb adalah:
1. Ya Fathimah, kepada wanita yang membuat tepung untuk suami dan anak-anaknya, ALLAH pasti akan menetapkan kebaikan baginya dari setiap biji gandum, melebur kejelekan, dan meningkatkan derajat wanita itu.
2. Ya Fathimah, kepada wanita yang berkeringat ketika menumbuk tepung untuk suami dan anak-anaknya, niscaya ALLAH menjadikan dirinya dengan neraka tujuh tabir pemisah.
3. Ya Fathimah, tiadalah seorang yang meminyaki rambut anak-anaknya lalu menyisirnya dan mencuci pakaiannya, melainkan ALLAH akan menetapkan pahala baginya seperti pahala memberi makan seribu orang yang kelaparan dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang.
4. Ya Fathimah, tiadalah wanita yang menahan kebutuhan tetangganya, melainkan ALLAH akan menahannya dari minum telaga kautsar pada hari kiamat nanti.
5. Ya Fathimah, yang lebih utama dari seluruh keutamaan di atas adalah keridhoaan suami terhadap istri. Andaikata suamimu tidak ridho kepadamu, maka aku tidak akan mendoakanmu. Ketahuilah wahai Fathimah, kemarahan suami adalah kemurkaan ALLAH.
6. Ya Fathimah, apabila wanita mengandung, maka malaikat memohonkan ampunan baginya, dan ALLAH menetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan serta melebur seribu kejelekan. Ketika wanita merasa sakit akan melahirkan, ALLAH menetapkan pahala baginya sama dengan pahala para pejuang di jalan ALLAH. Jika dia melahirkan kandungannya, maka bersihlah dosa-dosanya seperti ketika dia dilahirkan dari kandungan ibunya. Bila meninggal ketika melahirkan, maka dia tidak akan membawa dosa sedikitpun. Didalam kubur akan mendapat pertamanan indah yang merupakan bagian dari taman sorga. Dan ALLAH memberikan pahala kepadanya sama dengan pahala seribu orang yang melaksanakan ibadah haji dan umrah, dan seribu malaikat memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat.
7. Ya Fathimah, tiadalah wanita yang melayani suami selama sehari semalam dengan rasa senang serta ikhlas, melainkan ALLAH mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan pakaian padanya di hari kiamat berupa pakaian yang serba hijau, dan menetapkan baginya setiap rambut pada tubuhnya seribu kebaikan. Dan ALLAH memberikan kepadanya pahala seratus kali beribadah haji dan umrah.
8. Ya Fathimah, tiadalah wanita yang tersenyum di hadapan suami, melainkan ALLAH memandangnya dengan pandangan penuh kasih.
9. Ya Fathimah, tiadalah wanita yang membentangkan alas tidur untuk suami dengan rasa senang hati, melainkan para malaikat yang memanggil dari langit menyeru wanita itu agar menyaksikan pahala amalnya, dan ALLAH mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.
10. Ya Fathimah, tiadalah wanita yang meminyaki kepala suami dan menyisirnya, meminyaki jenggot dan memotong kumisnya, serta memotong kukunya, melainkan ALLAH memberi minuman arak yang dikemas indah kepadanya yang didatangkan dari sungai2 sorga. ALLAH mempermudah sakaratul-maut baginya, serta kuburnya menjadi bagian dari taman sorga. Dan ALLAH menetapkan baginya bebas dari siksa neraka serta dapat melintasi shirathal-mustaqim dengan selamat.
Begitu indah menjadi wanita, dengan kelembutan dan kasihnya dapat merubah dunia.
Jadilah diri-dirimu menjadi wanita sholehah, agar negeri menjadi indah, karena dirimu adalah tiang negeri ini.
Terapi Penyakit ati dalam Tafsiran Islam
Hidup pada zaman sekarang telah menuntut manusia selalu waspada. Mulai dari membuka mata sampai menutup mata kembali, karena manusia sering sekali disuguhiolehkemaksiatan dan dosa.
Beruntunglah bagi mereka yang mampu menghindarinya. Celakalah bagi mereka yang terbawa oleh arus dosa dan kemaksiatan. Karena jika manusia terjebak dalam dosa dan kemaksiatan, berarti manusia telah menanamkan pengaruh berbahaya dan buruk bagi hati. Hati menjadi tertutup, gersang, dan terasa gelap. Kegelapan itu benar-benar nyata di dalam hati, maka seseorang akan jatuh dalam perkara-perkara syubhat dan mengikuti syahwat. Akibatnya seseorang akan jatuh dalam perkara-perkara syubhat yang dapat merusak hati dan menghancurkan hatinya tanpa ia sadari.
Kedua penyakit tersebut telah dijelaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:
“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (QS. Al-baqarah, 2: 10).
Menurut Hamdan Bakran Adz-Dzaky, penafsiran ayat diatas ialah, “…Apabila seseorang individu, akal, fikiran, hati, dan seluruh tubuhnya kotor dan penuh dengan karat-karat kedurhakaan dan dosa kepada Allah SWT, maka seseorang akan mengalami kehancuran dalam kehidupannya…”
Dosa juga dapat mengubah hati, dari sehat dan lurus menjadi sakit dan runtuh. Karena dosa, hati seseorang akan tetap sakit dan payah. Makanan yang bergizi untuk santapan hidup tidak bermanfaat bagi manusia. Bekas penyakit di badan dan dosa merupakan penyakit hati. Tiada obat untuk menyembuhkannya selain meninggalkan maksiat.
Menurut Ibnu Qayyim yang didikutip oleh Salim Bazemool dalam bukunya “Terapi Penyakit Hati” mengatakan, bahwa:
“Orang-orang yang telah datang dan pergi menuju Allah SWT, mereka sepakat bahwa hati tidak diberi cita-cita, sampai seseorang itu kembali menuju Allah SWT, dan hati tidak akan sampai kepada tuhannya kecuali seseorang benar, sehat dan bersih. Keadaan sehat, benar, dan bersih tidak akan tercapai bila penyakitnya tidak berbalik. Di sinilah jiwa membutuhkan obat.”
Bagi kehidupan manusia, setiap penyakit yang diderita olehnya baik itu yang bersifat jasmani maupun rohani dapat diantisipasi oleh terapi yang berdasarkan al-Quran dan As-Sunnah. Dewasa ini, sangat banyak sekali terapi-terapi menjamur terutama di Negara Indonesia. Hal ini dikarenakan kurang responnya pemerintah yang dalam hal ini diwakili oleh Departemen kesehatan terhadap praktek-praktek terapi ilegal yang membahayakan fisik dan fsikis manusia. bagaimanapun juga, Setiap penyakit mempunyai dampak yang tidak baik dan dapat merusak diri maupun merusak lingkungan sekitarnya terlebih lagi penyakit hati.
Karena itulah agama Islam memerintahkankan kepada setiap manusia untuk mengobati setiap penyakit yang dideritanya, khususnya penyakit hati yang kronis. Dalam hal penyakit jasmani sudah banyak yang diketahui dan dipraktekan oleh para dokter-dokter spsesialis. Sedangkan bagi penyakit yang bersifat rohani dalam hal ini adalah penyakit hati belum banyak dokter-dokter mendiagnosinya. di sini sangat diperlukan sekali integrasi pengetahuan seorang dokter terhadap pengetahuan agama dan alam.
Sebagaimana Allah SWT menjelaskan dalam firman-Nya:
“Hai manusia, Sesungguhnya Telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Yunus,10:57).
Sebagaimana Aba Firdaus Al-Hawani dan Sriharini, mengintepretasikan ayat di atas ialah, ”Bahwa agama itu diturunkan oleh Allah untuk obat bagi penyakit-penyakit hati yang ada di dalam dada manusia. Dengan mengamalkan ajaran-ajaran Allah secara sungguh-sungguh, disertai manfaat yang benar sesuai dengan petunjuk al-Qur’an, maka manusia akan dapat menemukan obat bagi penyakit-penyakit di hatinya.”
Dalam agama Islam semua penyakit merupakan Sunnatullah (hukum alam) yang tidak dapat di ganggu-gugat kepada seluruh ciptaan mahkluk-Nya, baik manusia ataupun hewan. Spesifikasi penyakit pada manusia disamping sebagai musibah di dalamnya pun terdapat suatu hikmah yang sangat besar. oleh karena itu, menurut Ibnu Qayyim yang dikutip oleh Abu Affan, beliau berkata, “jika kita menyebutkan hikmah yang terdapat dalam diri kita, pada ciptaan dan kekuasaan-Nya, maka akan kita temukan lebih dari sepuluh ribu hikmah. akal dan pengetahuan kita sangat terbatas untuk dapat menangkap hikmah yang ada balik penyakit. dengan demikian, manusia akan menyadari betapa lemahnya seorang manusia dihadapan Tuhannya.”
Peranan agama dalam kesehatan jiwa seseorang sangat relevan. Dalam hal ini, menurut Abdurrahman M. Al-Isawi, mengatakan bahwa, ”Islam banyak memiliki hal yang mampu menjaga kesehatan manusia secara fisik, akal dan kejiwaannya. Selain itu, Islam menjamin kehidupan harmonis manusia terutama pada dirinya sendiri, serta hidup harmonis bersama masyarakat di sekitarnya; Islam menjamin keharmonisan hidup antara kebahagian dunia dan akhirat.”
Manusia ditempatkan di alam semesta ini agar ia berusaha untuk mengembangkan kemampuannya dan meluaskan cakrawala pemikirannya dengan memperbanyak pengetahuan, dan menguatkan rohaninya untuk mencapai kesempurnaan. Dengan itu manusia diharapkan mampu untuk memenuhi tugas-tugasnya, yang merupakan kewajiban baginya dalam mengukuhkan kepribadian yang sehat dan jujur, demi mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat semakin keras usaha yang dilakukan manusia dalam menempuh di jalan ini. Tak ada yang lebih mampu memberinya keberanian untuk memasuki gelombang kehidupan yang bergelombang dan penuh problema, kecuali kepribadian yang sehat dan keimanan yang kuat.
Langkah yang pertama kearah perkembangan dan penyempurnaan pribadi adalah mempelajari cara-cara memanfaatkan kekuatan dan kemampuan yang tersembunyi pada diri, dan mempersiapkan diri untuk menyingkirkan segala faktor yang menimbulkan masalah dalam menuju jalan kesempurnaan. Kemudian langkah selanjutnya kata-kata dan tindakan tidak mengandung nilai yang berasal dari kedalaman wujud manusia. Kata-kata mengekspresikan kandungan pikiran, seakan-akan merupakan terjemahan dari rahasia-rahasia yang tersimpan di dalamnya.
“Bila perkataan seseorang bertentangan dengan tindakannya, atau tidak bertentangan akan tetapi ingin mendapat pujian dari orang lain yang mendengarkannya, atau ia melakukan sesuatu bukan merupakan keikhlasan hati, tetapi karena ia ingin dipuji oleh orang yang melihatnya, atau orang syirik kepada orang lain. Maka itu menunjukan kepribadian yang goyah dan mengakibatkan kehancuran dalam kehidupan manusia itu sendiri sehingga ia akan merana dan tersiksa di dunia dan di akhirat.”
Manusia diciptakan dari dua unsur, yaitu unsur jasmani dan rohani. Unsur jasmani berupa tanah pada proses penciptaan Nabi Adam A.S. Dari saripati yang hina pada penciptaan manusia sesudahnya. Sedangkan unsur rohani adalah unsur Ilahiyah yang bersumber langsung dari Allah SWT. Unsur materi yang bersifat keberadaan (materi) mendorong manusia untuk memenuhi kebutuhan, makan, minum, pakaian dan sebagainya. Sedangkan unsur rohani yang bersifat immateri, mendorong manusia untuk taat beribadah, mensucikan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kedua unsur ini selalu tarik menarik dalam kehidupan manusia. Bagi unsur jasmani yang tarikannya lebih kuat, maka ketika itu berada dalam penguasan hawa nafsu yang terlalu mendorong untuk berbuat kejahatan.
Hati, dalam al-Quran teraktualisai dalam kata qalb, fu’ad, dan shard. Tetapi, dibandingkan kata fu’ad dan shadr. Al-Quran lebih sering mengkiaskan hati manusia dengan kata-kata qalb, hal ini dapat dilihat dengan penggunaan term tersebut yang tidak kurang dari 132 kali dan termuat dalam 126 surat baik dalam bentuk tunggal maupun jamak.
Terlepas dari seringnya al-Quran menyebut kata qalb daripada kata fu’ad dan shadr tidak menyebabkan kata itu (baca: fu’ad dan shadr) menjadi tereduksi fungsinya. menurut Adz-Dzaky, mengatakan bahwa:
“Ketiga macam kata yang sering dipergunakan di dalam al-Quran secara umum mempunyai pungsi yang sama, yaitu ia sebagai wadah dan media Allah SWT di dalam menampakan ayat-ayat-Nya berupa gambaran dan pemandangan batin yang mengandung isyarat, pelajaran yang tinggi sangat bermakna dan penuh dengan hikmah-hikmah; ia sebagai wadah terbitnya firasat-firasat berupa suara dan bisikan ketuhanan yang mengandung perintah dan larangan, esensi keimanan dan kefasikan, esensi ketauhidan dan kesyirikan; ia sebagai wadah lahirnya rasa cita dan kerinduan, rasa sedih dan gembira, rasa keinsanan dan ketuhanan.”
Dalam konteks bahasa Indonesia terminologi qalb (kalbu) digunakan untuk menyebut hati, baik dalam pemaknaan secara konkrit (fisik) maupun abstrak (psikologis).
Dengan kata lain, “kalbu” adalah manifestasi dari aspek jasadi-rohani (psikofisik) manusia, hanya saja,”kalbu” lebih memiliki tendensi kepada sesuatu yang bersifat keilahian (teosentris). Melalui ”kalbu” manusia tidak hanya mendapat pesan suci Tuhan, tetapi lebih dari itu manusia dapat membenarkan wahyu yang sifatnya supra rasional, sekalipun rasionalitasnya menolak hal seperti itu, sebagaimana manusia membenarkan pengungkapan ayat-ayat Al-Quran tentang adanya transendensi perkara yang gaib, termasuk membenarkan pengalaman spiritual Nabi Muhammad Saw pada peristiwa Isra’Mi’raj. mengutip pendapat Fazlur Rahman, menurutnya, bahwa“…kesadaran akan hal transenden yang pada hakikatnya merupakan kesadaran Ilahiyah akan menciptakan ruang bagi Mi’raj manusia menuju Allah SWT, serta mengembangkan diri manusia itu sendiri. Tanpa itu, manusia akan terkurung dalam kemandekan dan keterbelahan...”
Kemampuan kalbu yang telah menghantarkan pada pengalaman spiritualitas manusia, religiusitas dan ketuhanan telah menjadikan manusia pada tingkat supra kesadaran yang memungkinkannya untuk mengimani wahyu yang bersifat supra rasional dengan berbagai tendensi yang ada.
Inilah yang menjadi pungsi utama dari kalbu, yaitu sebagai alat untuk memahami realitas dan nilai-nilai. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Quran:
“Dan sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”(Qs.al-a’raf,7:179)
Kalbu memiliki karakter yang tidak konsisten/ berubah-berubah (munqalib), seperti; yakin (QS. Al-Hujurat, 49: 17) dan ragu-ragu (QS. Al-Baqarah, 2: 10), menerima petunjuk Tuhan (QS. Al-Taghabun, 79: 11) dan buta dari petunjuk Tuhan (QS. Al-Hajj, 22: 46), merasa takut (QS.An-Naazi’at, 78: 8) ataupun keras melebihi batu (QS.Al-Baqarah, 2: 74). Sebagaimana sabda Rasulullah Saw:
“Sesungguhnya disebut kalbu karena sifatnya yang berubah-rubah.” (HR.Thabrani dari Ibnu Musa)
Lebih lanjut, karakter “kalbu” yang tidak konsisten memungkinkan manusia untuk bisa terkena konflik batin. maka dari itu menarik untuk dikutip ungkapan Ahmad Mubarok beliau mengatakan:
“Interaksi yang terjadi antara pemenuhan fungsi memahami realita dan nilai-nilai (positif) dengan tarikan potensi negatif yang berasal dari kandungan hatinya, melahirkan suatu keadaan psikoligis yang menggambarkan kualitas, tipe dan kondisi dari qalb itu.”
Proses interaksi psikologis itulah yang mengantarkan hati pada kondisi dan kualitas hati yang sebenarnya, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw:
“Sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik maka semua tubuh menjadi baik, tetapi apabila ia rusak maka semua tubuh menjadi rusak pula. Ingatlah bahwa ia adalah kalbu.” (HR. Bukhari dari Nu’man Ibnu Basyir)
Dewasa ini, banyak terjadi perkembangan dalam pelbagai keilmuan. terutama dalam bidang psikologi terus berkembang. dalam hal ini seorang intelektual Muslim Indonesia menjelaskan tentang psikologi, menurutnya, bahwa:
“Psikologi modern telah menemukan berbagai macam ketidaknormalan jiwa seseorang yang mempengaruhi perasaan, pikiran, kelakuan dan kesehatan fisik. Kondisi perasaan yang tidak menyenangkan seperti frustasi (perasaan tertekan), konflik jiwa (pertentangan batin), cemas/ anxiety (semacam ketakutan yang amat sangat, tidak jelas sebabnya dan tidak mudah mengatasinya). Disamping itu dikenal pula gangguan kejiwaan (psycho neurosis) dan penyakit kejiwaan (psikosis).”
Dalam Psikoterapi Islam, semua kelainan tersebut dikatakan dengan satu istilah saja, yaitu ”penyakit hati,” namun tidak diuraikan kedalam kelompok-kelompok penyakit, seperti dipopulerkan oleh pakar Psikiolgi Abnormal belakangan ini.
Memang sebagaimana halnya badan atau lahiriah yang setiap saat bisa diserang penyakit-penyakit fisik, begitupun dengan hati yang tidak tertutup kemungkinan dapat terjangkit penyakit yang secara zahir keberadaannya tidak terlihat oleh mata telanjang, namun hati tetap merasakan penderitaan akibat penyakit tersebut.
Sebagaimana Sayyid Abbad Nuruddin yang dikutip oleh Rudhi Suharto dalam bukunya “Menerbitkan Cahaya Diri”menyebutkan, bahwa “ada empat tingkatan penyakit yang harus dikenali dan diobati. Pertama; penyakit yang menyerang pada bagian fisik. Kedua; penyakit yang berupa khayalan kotor. Ketiga; penyakit yang berada pada akal manusia yang selalu berhubungan dengan hal-hal yang tidak benar. Keempat; penyakit hati.”
Dalam hal ini ada dua tokoh sufi besar yang kedua-duanya sudah tidak asing lagi terdengar ditelinga kaum muslimin timur tengah maupun di Indonesia yang beraliran tasawuf sunni. Mereka adalah Imam al-Ghazali dan Ibnu Taimiyah yang merupakan tokoh penting dalam khazanah pemikiran Islam terutama dalam membahas atau megkaji lebih detail tentang terapi penyakit hati dalam karya-karyanya yang monumental, yaitu kitab Ihya Ulum al-Diin dan Amradh al-Qulub wa Syif’uha. Di samping itu juga mereka dikenal sebagai Intelektual dan Ulama yang telah memberikan kontribusi luar biasa dalam mendidik dan melahirkan generasi pemikir Muslim yang tersebar di seluruh dunia.
Walaupun keduanya berbeda mazhab tetapi mempunyai satu tujuan yang sama, yaitu mengintegrasikan antara Ulama dan Umara. Imam al-Ghazali berpendapat bahwa seseorang yang terindikasi gejala penyakit hati lebih ditekankan pada aspek kelezatan duniawi saja dan menyampingkan sisi-sisi ke ukhrawian. Sedangkan menurut Ibnu Taimiyah seseorang yang cendrung perbuatanya kepada perkara syubhat dan syahwat.
Kisah Bumi dan Langit
Adapun terjadinya peristiwa Isra' dan Miraj adalah karena bumi merasa bangga dengan langit. Berkata dia kepada langit, "Hai langit, aku lebih baik dari kamu karena ALLAH SWT. telah menghiaskan aku dengan berbagai-bagai negara, beberapa laut, sungai-sungai, tanam-tanaman, beberapa gunung dan lain-lain."
Berkata langit, "Hai bumi, aku juga lebih elok dari kamu kerana matahari, bulan, bintang-bintang, beberapa falah, buruj, 'arasy, kursi dan syurga ada padaku."
Berkata bumi, "Hai langit, ditempatku ada rumah yang dikunjungi dan untuk bertawaf para nabi, para utusan dan arwah para wali dan solihin (orang-orang yang baik)."
Bumi berkata lagi, "Hai langit, sesungguhnya pemimpin para nabi dan utusan bahkan sebagai penutup para nabi dan kekasih ALLAH seru sekalian alam, seutama-utamanya segala yang wujud serta kepadanya penghormatan yang paling sempurna itu tinggal di tempatku. Dan dia menjalankan syari'atnya juga di tempatku."
Langit tidak dapat berkata apa-apa, apabila bumi berkata demikian. Langit mendiamkan diri dan dia mengadap ALLAH S.W.T dengan berkata, "Ya ALLAH, Engkau telah mengabulkan permintaan orang yang tertimpa bahaya, apabila mereka berdoa kepada Engkau. Aku tidak dapat menjawab soalan bumi, oleh itu aku minta kepada-Mu Ya ALLAH supaya Muhammad Engkau dinaikkan kepadaku (langit) sehingga aku menjadi mulia dengan kebagusannya dan berbangga."
Lalu Allah S.W.T mengabulkan permintaan langit, kemudian ALLAH S.W.T memberi wahyu kepada Jibrail A.S pada malam tanggal 27 Rajab, "Janganlah engkau (Jibrail) bertasbih pada malam ini dan engkau 'Izrail jangan engkau mencabut nyawa pada malam ini."
Jibrail A.S. bertanya, " Ya ALLAH, apakah kiamat telah sampai?"
ALLAH S.W.T berfirman, maksudnya, "Tidak, wahai Jibrail. Tetapi pergilah engkau ke Syurga dan ambillah buraq dan terus pergi kepada Muhammad dengan buraq itu."
Kemudian Jibrail A.S. pun pergi dan dia melihat 40,000 buraq sedang bersenang-lenang di taman Syurga dan di wajah masing-masing terdapat nama Muhammad. Di antara 40,000 buraq itu, Jibrail A.S. terpandang pada seekor buraq yang sedang menangis bercucuran air matanya. Jibrail A.S. menghampiri buraq itu lalu bertanya, "Mengapa engkau menangis, ya buraq?"
Berkata buraq, "Ya Jibril, sesungguhnya aku telah mendengar nama Muhammad sejak 40 tahun, maka pemilik nama itu telah tertanam dalam hatiku dan aku sesudah itu menjadi rindu kepadanya dan aku tidak mahu makan dan minum lagi. Aku laksana dibakar oleh api kerinduan."
Berkata Jibrail A.S., "Aku akan menyampaikan engkau kepada orang yang engkau rindukan itu."
Kemudian Jibrail A.S. memakaikan pelana dan kekang kepada buraq itu dan membawanya kepada Nabi Muhammad S.A.W.
Wallahu'alam.
Buraq yang diceritakan inilah yang membawa Rasulullah S.A.W dalam perjalanan Isra' dan Mi'raj.