Rabu, 01 September 2010

Sejarah Thifan Po Khan

Bela diri Thifan Po Khan merupakan hasil perpaduan beragam aliran bela diri di dataran Saldsyuk sampai dataran Cina. Suku-suku muslim yang tinggal di kawasan itu, seperti Tatar, Wigu, Mandsyu, Kittan dan sebagainya banyak yang sudah memiliki bela diri tradisional.

Saat Islam mulai menyebar ke kawasan Asia Selatan, Asia Tenggara dan Asia Timur, kaum Muslimin di kawasan ini terus memegang wasiat Rasulullah itu, mempelajari bela diri yang sesuai dengan kebiasaan dan keahlian masyarakat setempat.

Tersebutlah seorang bangsawan Suku Tayli bernama Je’nan, menghimpun berbagai ilmu bela diri yang ada di dataran Saldsyuk hingga dataran Cina. Bersama dengan pendekar muslim lain, yang memiliki keahlian gulat Mogul, Tatar, Saldsyuk, silat Kittan, Tayli, mereka membentuk sebuah aliran bernama Shurul Khan.

Dari Shurul Khan inilah terbentuk aliran Naimanka, Kraiddsyu, Suyi, Syirugrul, Namsuit, Bahroiy, Tae Fatan, Orluq serta Payuq. Kesembilan aliran ini kemudian digubah, ditambah, ditempa, dialurkan, dipilah, dan diteliti, sampai akhirnya menjadi dikal bakal munculnya Thifan Po Khan.

Pada abad ke-16, Thifan Po Khan sudah dikenal di Indonesia. Saat itu, Raja Kerajaan Lamuri, Sultan Malik Muzafar Syah, mendatangkan para pelatih Thifan dari Turki Timur. Para pelatih itu kemudian disebarkan ke kalangan bangsawan di Sumatera.

Pada abad ke-18, Tuanku Rao dan kawan-kawannya mengembangkan Thifan ke daerah Tapanuli Selatan dan Minang. Selanjutnya bela diri Thifan tersebar ke Sumatera bagian timur dan Riau, yang berpusat di Batang Uyun/Merbau. Tuanku Haji atau Hang Udin juga membawa Thifan ke daerah Betawi dan sekitarnya.

Masuknya Thifan ke Jawa juga merupakan andil orang-orang Tartar yang berdagang ke pulau Jawa. Sambil menjajakan kain, mereka turut serta memperkenalkan Thifan pada masayarakant Jawa. Sedangkan di luar Jawa, Thifan disebarkan para pendekar yang berpetualang ke sana. Mereka bahkan sampai di Malaysia dan Thailand Selatan.

Read More ..

Senin, 26 Juli 2010

Nilai Tahfidz

Bismillahirrahmanirrahim
Sebenarnya pembagian rapot udah lama sih, tapi tiba-tiba pingin nge-repost note ini aja.

yuuuuk
langsung ajjaaa

Rasa malu bercampur kecewa


Tepatnya tanggal 24 Juni 2010, hari yang dinanti-nanti hanya oleh orang-orang pintar karena saatnya unjuk kepintaran mereka, tidak bagiku yang "biasa-biasa saja"..
Rasanya tak ingin melihat rapot sendiri, firasatku berkata nilai rapotku tahun ini sedikit "bobrok", dan benar saja begitu ku buka rapot, nilai yang paling menarik hatiku untuk melihatnya pertama kali itu adalah nilai Tahfidz (Hifdzon) dan ternyata. Innalillahi nilai yang tak pernah ku dapat sebelumnya. Nilai kurang memuaskan untuk pelajaran favoritku..


Ingin rasanya segera menangis, namun tak ada gunanya juga..

Akhirnya aku bertekad, untuk kelas XII nanti aku akan lebih serius dalam mata pelajaran ini, tentu dalam pelajaran-pelajaran lainnya. Tapi aku akan lebih ekstra berusaha dalam pelajaran yang satu ini..

Doakan yah

25 Juni 2010

Read More ..

Impiankuuuuu............

Bismillahirrahmanirrahìm

Menurutku semua berawal dari mimpi (impian), betul kan???
setelah bermimpi baru kita merealisasikannya

Kalian punya impian kan?

Yah nggak jauh beda sama kalian, aku juga punya impian. Tapi dari dulu sampai sekarang ada satu pertanyaan yang mengganjal, gimana cara mewujudkannya?

Impianku saat ini

Kuliah di Al-Azhar, di Kairo, Mesir..
Menyelesaikan S-1 dan S-2 di sana lalu pulang ke Indonesia dan mengamalkan ilmu-ilmu yang telah di dapat dari Al Azhar..

Impian ke 2
Mendirikan sekolah, memajukan pendidikan Agama Islam di JaBar bahkan se-Indonesia..
Memajukan Agama Islam dengan mendirikan sekolah, dari mulai RA, MI, Tsanawiyah, Mu'allimin lalu Universitas Tinggi,


Alhamdulillah jika menjadi kenyataan, namun jika tidak mungkin Allah menghendaki jalan lain, jalan yang mungkin lebih indah daripada kuliah di Al Azhar..

Semoga impian kita menjadi kenyataan, tentunya impian itu harus dibarengi dengan usaha dan doa lalu pada akhirnya kita pasrahkan hasilnya pada Allah SWT..

Ayo sama-sama saling mendoakan..

Read More ..

'RASA' itu

Bismillahirrahmanirrahim

Ya Allah

ketika rasa ini menyeruak dalam dada, ketika tak dapat di bendung lagi
Ya Allah lindungilah hamba dari syirik Mahabbah


Bagaimanapun juga aku hanya manusia biasa, saya perempuan biasa yang bisa merasakannya, merasakan ketika 'rasa' itu datang dan perlahan membuat hati berbunga-bunga, dan kemudian selalu rindu pada kekasih hati, meskipun tak pernah ingin ku mengakui perasaan itu ada dalam hatiku, tak pernah ingin berlama-lama memikirkannya

terlalu membuang-buang waktu

aku menunggu waktu itu tiba

ketika seorang ikhwan mengetuk pintu rumahku, bukan untuk bertemu denganku namun dengan kedua orang tuaku, menjelaskan maksud kedatangannya

ah tidak perlu di perpanjang, karena kalian pasti sudah tahu kelanjutannya.

Fitrah manusia yang selalu cenderung pada lawan jenis membuat hati ini selalu mencari Sang Pujaan hati, tak bisa ku pungkiri. Namun, selalu ku tekan dalam-dalam rasa itu, sehingga tak muncul ke permukaan hati lagi..


22 Juli 2010


21 25

Read More ..

Selasa, 20 Juli 2010

Mujtahidatunnisa: Airmata Rasulullah

Mujtahidatunnisa: Airmata Rasulullah

Read More ..

Airmata Rasulullah

Lagi lagi Copy Paste

Ini bisa jadi bahan renungan kita semua lho



Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.

Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."

Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. "Badan Rasulullah mulai ding! in, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.

Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku - peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

NB:
Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita.

Karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka. Amin...

Usah gelisah apabila dibenci manusia karena masih banyak yang menyayangi mu di dunia tapi gelisahlah apabila dibenci Allah karena tiada lagi yang mengasihmu diakhirat.

Read More ..

Selasa, 06 Juli 2010

Belajar Mencintai Orang Yang Tidak Sempurna

CoPaSus alias copy paste tanpa kasus dari salah satu Note temen..

From members of Ahmad Tukiran Maulana Da'i Keliling
By : Ahmad Tukiran Maulana


Belajar Mencintai Orang yang Tidak Sempurna


Kita ada di dunia bukan untuk mencari seseorang
yang sempurna untuk dicintai
TETAPI untuk belajar mencintai orang yang tidak sempurna
dengan cara yang sempurna.


Jikalau kita memancing ikan, setelah ada ikan yang terperangkap di mata kail, hendaklah kita segera mengambil ikan itu. Janganlah sesekali kita melepaskan ia seperti semula ke dalam air begitu saja. Karena ia akan sakit oleh karena ketajaman mata kail kita dan mungkin ia akan menderita selama ia masih hidup.
Begitu juga…
Jikalau kita memberi harapan kepada seseorang, setelah ia menerima dan mulai menyayangi kita, hendaklah kita menjaga hatinya. Janganlah sesekali kita meninggalkannya begitu saja tanpa alasan yang masuk akal. Karena dia akan terluka oleh kenangan harapan dari kita dan mungkin dia tidak dapat melupakan segalanya selama dia mengingat kita.

Jikalau kita telah memiliki sepiring nasi yang baik untuk diri kita, mengenyangkan dan berkhasiat. Mengapa kita lengah dengan mencoba mencari makanan lain yang tampak lebih enak? Terlalu ingin mengejar kelezatan. Kelak, nasi itu akan basi dan kita tidak bisa memakannya lagi. Kita akan menyesal.
Begitu juga…
Jikalau kita telah bertemu dengan seseorang yang akan membawa kebaikan kepada diri kita, shalih atau shalihah. Mengapa kita lengah dengan mencoba membandingkannya dengan yang lain? Terlalu mengejar kesempurnaan. Kelak, kita akan merasa kehilangan apabila dia telah dipilih dan menjadi milik orang lain. Kita juga yang akan menyesal.

Read More ..

Jumat, 02 Juli 2010

Doa Seorang Pembantu Yang Selalu Di Ijabah

Basrah, Iraq. Sudah beberapa lama tak turun hujan. Hari itu belum beranjak siang. Terik matahari mulai terasa. Angin musim kemarau berhembus. Angin kering padang pasir menerpa wajah. Orang-orang mulai kesulitan mendapati air. Demikian juga binatang peliharaan yang kelihatan kurus-kurus.

Hari itu penduduk Basrah sepakat untuk mengadakan shalat Istisqa’. Untuk meminta hujan yang sudah sekian lama tertahan. Shalat itu akan dihadiri para ulama Basrah dan tokoh masyarakatnya. Yang langsung akan dipimpin oleh salah seorang ulama pilihan di antara mereka. Nampak di antara para ulama yang sudah hadir Ulama Besar Malik bin Dinar, Atho’ As-Sulaimi, Tsabit Al-Bunani, Yahya Al-Bakka, Muhammad bin Wasi’, Abu Muhammad As-Sikhtiyani, Habib Abu Muhammad Al-Farisi, Hasan bin Abi Sinan, Utbah bin Al-Ghulam, dan Sholeh Al-Murri.

Benar-benar sebuah sholat Istisqo’ yang istimewa. Dihadiri orang-orang terbaiknya. Tentunya dengan harapan agar ALLAH menurunkan kembali hujan yang ditahan karena dosa-dosa manusia.


Para penduduk nampak berduyun-duyun mendatangi lapangan yang telah ditentukan. Para ulama pun sudah mulai nampak di lapangan itu. Anak-anak kecil yang asyik belajar di tempat pengajian Al-Qur’an mereka, juga nampak berlarian menuju lapangan. Demikian juga para wanitanya. Besar, kecil, laki, perempuan, tua, muda, semuanya tidak ada yang ketinggalan untuk mengikuti sholat. Dengan hanya satu harapan, agar hujan kembali turun.

Sholat dimulai. Dua rokaat sudah. Selesai itu sang imam menyampaikan khutbah dan doa panjangnya. Mengakui segala kelemahan dan kesalahan manusia yang menyebabkan murka ALLAH. Dan mengharap kembali turunnya berkah hujan dari langit. Karena masih ada orang tua dan binatang yang tidak bersalah ikut menanggung akibat dosa sebagian orang. Doa terus dipanjatkan.

Waktu terus beranjak siang. Tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Mendung tak kunjung datang. Langit masih terlihat cerah. Matahari semakin terasa terik. Sholat Istisqa’ selesai. Semua penduduk pulang ke rumah masing-masing. TinggALLAH para ulama yang masing-masing bertanya dalam hati mengapa hujan tak kunjung datang. Padahal telah berkumpul orang-orang baik dan pilihan di masyarakat Basrah.

Akhirnya diputuskan untuk menentukan hari lain. Mengulang sholat Istisqa’ berharap untuk kali ke dua ini, ALLAH mengabulkan doa mereka. Sholat kedua ditentukan. Suasana sholat ketika itu tidak jauh berbeda dengan sholat sebelumnya. Dan kali ini pun belum ada tanda-tanda dikabulkannya doa. Langit masih sangat cerah dengan terik matahari tengah hari. Tanda tanya di hati para ulamanya semakin besar.

Sholat ketiga pun segera menyusul. Semoga yang ketiga inilah yang didengar, begitu harapan mereka. Persis seperti yang pertama dan kedua, sholat yang ketiga pun mempunyai suasana yang sama. Dan ternyata hasilnya pun sama. Hujan masih tertahan entah karena apa. Tanda tanya di hati para ulama Basrah kian menggelayut di dalam hati mereka masing-masing. Tanpa jawaban. Seluruh penduduk dan ulamanya pulang ke rumah dan tidak tahu kapan musim kering itu berlalu.

Tersisa Malik bin Dinar dan Tsabit Al-Bunani di lapangan terlihat berbincang serius. Perbincangan itu dilanjutkan di masjid yang tidak jauh dari tempat itu. Hingga malam datang menjelang. Masjid sudah sepi, tidak ada lagi yang sholat. Karena sudah malam larut.

Tiba-tiba mereka berdua dikejutkan oleh seorang dengan kulit berwarna gelap, wajah yang sederhana, dengan betis tersingkap yang terlihat kecil, dengan perut buncit. Orang itu memakai sarung dari kulit domba, demikian juga kain yang dipakainya untuk atas badannya. “Aku memperkirakan semua yang dipakainya tidak melebihi dua dirham saja,” kata Malik bin Dinar. Yang menunjukkan bahwa orang itu hanyalah orang miskin yang tidak memiliki banyak harta.

Malik bin Dinar mengamati gerak-geriknya, ingin mengetahui apa yang akan dilakukan oleh orang hitam itu di larut malam seperti ini. Orang itu menuju tempat wudhu. Setelah selesai wudhu, seperti tanpa mempedulikan Malik dan Tsabit yang mengamatinya dari tadi, orang itu menuju mihrab imam kemudian sholat dua rokaat. Sholatnya tidak terlalu lama. Surat yang dibaca tidak terlalu panjang. Ruku’ dan sujudnya sama pendeknya dengan lama berdirinya.

Selesai sholat, orang itu menengadah tangannya ke langit sambil berdoa. Malik bin Dinar mendengar isi doa yang disampaikan dengan suara yang tidak terlalu tinggi tapi terdengar. “Tuhanku, betapa banyak hamba-hamba-Mu yang berkali-kali datang kepada-Mu memohon sesuatu yang sebenarnya tidak mengurangi sedikitpun kekuasaan-Mu. Apakah ini karena apa yang ada pada-Mu sudah habis? Ataukah perbendaharaan kekuasaan-Mu telah hilang? Tuhanku, aku bersumpah atas nama-Mu dengan kecintaan-Mu kepadaku agar Engkau berkenan memberi kami hujan secepatnya.”

Setelah mendengar itu Malik bin Dinar berkata, “Belum lagi dia menyelesaikan perkataannya, angin dingin pertanda mendung tebal menggelayut di langit. Kemudian tidak lama, hujan turun dengan begitu derasnya. Aku dan Tsabit mulai kedinginan.”

Malik dan Tsabit hanya bisa tercengang melihat orang hitam itu. Mereka berdua menunggu hingga orang itu selesai dari munajatnya. Begitu terlihat orang itu selesai, Malik menghampirinya dan berkata, “Wahai orang hitam tidakkah kamu malu terhadap kata-katamu dalam doa tadi?” Orang tdai bertanya, “Kata-kata yang mana?” “Kata-kata: dengan kecintaan-Mu kepadaku,” kata Malik. “Apa yang membuatmu yakin bahwa ALLAH mencintaimu?” sambung Malik. Orang itu menjawab, “Menyingkirlah dari urusan yang tidak kamu ketahui, wahai orang yang sibuk dengan dirinya sendiri! Dimanakah posisiku ketika aku dapat mengkhususkan diri kami untuk beribadah hanya kepada-Nya dan ma’rifat kepada-Nya. Mungkinkah aku dapat memulai hal itu jika tanpa cinta-Nya kepadaku sesuai dengan kadar yang dikehendaki dan cintaku kepada-Nya sesuai dengan kadar kecintaanku.”

Setelah berkata itu, dia pergi begitu saja dengan cepatnya. Malik memohon, “Sebentar, semoga ALLAH merahmatimu. Aku perlu sesuatu.” Orang itu menjawab, “Aku adalah seorang budak yang mempunyai kewajiban untuk mentaati perintah tuanku.”

Akhirnya Malik dan Tsabit sepakat untuk mengikuti dari jauh. Ternyata orang itu memasuki rumah seorang yang sangat kaya di Basrah yang bernama Nakhos. Malam sudah sangat larut. Malik dan Tsabit merasakan sisa malam begitu panjang, karena rasa penasarannya untuk segera mengetahui orang itu di pagi harinya.

Pagi yang dinanti akhirnya tiba. Malik yang memang mengenal nakhos itu segera menuju rumahnya untuk menanyakan budak hitam yang dijumpainya semalam. “Apakah engkau punya budak yang bisa engkau jual kepadaku untuk membantuku?” kata Malik bin Dinar beralasan untuk mengetahui budak hitam yang dijumpainya semalam. Nakhos berkata, “Ya, saya mempunyai seratus budak. Kesemuanya bisa dipilih.” Mulailah Nakhos mengeluarkan budak satu per satu untuk dilihat Malik. Sudah hampir semuanya dikeluarkan, ternyata Malik tidak melihat budak yang dilihatnya semalam. Sampai Nakhos menyatakan bahwa budaknya sudah dikeluarkan semua. “Apakah masih ada yang lain?” tanya Malik. “Masih tersisa satu lagi,” jawab Nakhos.

Saat itu waktu mendekati waktu dhuhur. Saat istirahat siang. Malik berjalan ke belakang rumah menuju suatu kamar yang sudah terlihat reot. Di dalam kamar itulah Malik melihat budak hitam yang dilihatnya semalam sedang tertidur lelap. “Nakhos, dia yang saya mau, ya demi ALLAH dia,” kata Malik semangat. Dengan penuh keheranan Nakhos berkata, “Wahai Abu Yahya, itu budak sial. Malamnya habis untuk menangis dan siangnya habis untuk sholat dan puasa.” “Justru untuk itulah aku mau membelinya,” kata Malik. Melihat kesungguhan Malik, Nakhos memanggil budak tadi.

Dengan wajah kuyu, dengan rasa kantuk yang masih terlihat berat budak itu keluar menemui majikannya. Nakhos berkata kepada Malik, “Ambillah terserah berapa pun harganya agar aku cepat terlepas darinya.”

Malik mengulurkan dua puluh dinar sebagai pembayaran atas harga budak itu. “Siapa namanya?” tanya Malik yang sampai detik itu masih belum mengetahui namanya. “Maimun.”

Malik menggandeng tangan budak itu untuk diajak ke rumahnya. Sambil berjalan, Maimun bertanya, “Tuanku, mengapa engkau membeliku padahal aku tidak cocok untuk membantu?”

Malik berkata, “Saudaraku tercinta, kami membelimu agar kami bisa membantumu.” “Kok bisa begitu?” tanya Maimun keheranan. “Bukankah kamu yang semalam berdoa di masjid itu? Tanya Malik. “Jadi kalian sudah tahu saya?” Maimun kembali bertanya. “Ya akulah yang memprotes doamu semalam,” kata Malik.

Budak itu meminta untuk diantar ke masjid. Setelah sampai ke pintu masjid, dia membersihkan kakinya dan masuk. Langsung sholat dua rokaat. Malik bin Dinar hanya bisa diam sambil mengamatinya dan ingin tahu apa yang ingin dilakukannya. Selesai sholat, orang itu mengangkat tangannya berdoa seperti yang dilakukannya kala malam itu. Kali ini dengan doa yang berbeda, “Tuhanku, rahasia antara aku dan Engkau telah Engkau buka di hadapan makhluk-makhluk-Mu. Engkau telah membeberkan semuanya. Maka bagaimana aku nyaman hidup di dunia ini sekarang. Karena kini telah ada yang ketiga yang menghalangi antara aku dan diri-Mu. Aku bersumpah, agar Engkau mencabut nyawaku sekarang juga.”

Tangan diturunkan, budak itu kemudian sujud. Malik mendekatinya. Menunggu dia bangun dari sujudnya. Tetapi lama dinanti tak juga bangun. Malik menggerakkan badan budak itu, dan ternyata budak itu sudah tidak bernyawa lagi.
(Tarbawi, No. 64 Th. 5)

Read More ..

Mimpi Yang Membawa Hikmah

Khalifah Umar bin Abdul Azis pernah gemetar ketakutan. Bukan karena menghadapi musuh di medan pertempuran. Tetapi ketika beliau mendengar cerita tentang alam akhirat.

Semua perbuatan manusia di dunia akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat. Di akhirat kelak setiap manusia akan diperintahkan berjalan melewati jembatan shiratal mustaqim. Manusia akan terlempar ke neraka jika tidak bisa melewati jembatan itu. Sebaliknya, manusia tersebut akan menikmati keindahan surga jika bisa melewati jembatan itu.

Setiap manusia akan menemui kesulitan dan kemudahan yang beragam saat berjalan di atas jembatan shiratal mustaqim. Jika selama hidup di dunia, manusia itu banyak beramal saleh, ia akan mudah melewatinya. Jika tidak, iaakan sulit berjalan di atas shiratal mustaqim. Bahkan, besarkemungkinan iaakan terlempar dan jatuh ke jurang neraka di bawahnya.


Hal itu membuat banyak orang khawatir. Tentu saja. Sebab, kita tidak pernah tahu secara pasti apakah selama di dunia kita tergolong orang yang banyak beramal saleh atau justru banyak berbuat dosa. Nah, perasaan itu juga dirasakan khalifah Umar bin Abdul Azis. Apalagi waktu khalifah Umar bin Abdul Azis mendengar cerita seorang hamba sahaya tentang mimpinya di suatu hari.

Umar bin Abdul Azis tertarik waktu hamba sahaya itu bercerita. “Ya, Amirul Mukminin. Semalam saya bermimpi kita sudah tiba di hari kiamat. Semua manusia dibangkitkan ALLAH, lalu dihisab. Saya juga melihat jembatan shiratal mustaqim.”

Umar bin Abdul Azis mendengarkan dengan seksama. “Lalu apa yang engkau lihat?” tanyanya.

“Hamba melihat satu per satu manusia diperintahkan berjalan melewati jembatan shiratal mustaqim. Penguasa Bani Umaiyah, Abdul Malik bin Marwan, hamba lihat ada di antara orang yang pertama kali dihisab. la berjalan melewati jembatan shiratal mustaqim. Tapi, baru dua langkah, dia sudah jatuh ke dalam jurang neraka. Saat ia jatuh, ubuhnya tak terlihat lagi. Hamba hanya mendengar suaranya. la terdengar menangis dan memohon ampun kepada ALLAH,” jawab hamba sahaya itu.

Umar bin Abdul Azis tertegun mendengar cerita itu. Hatinya gelisah.

“Lalu bagaimana?” ia bertanya dengan gundah.

“Setelah itu giliran putranya, Walid bin Abdul Malik bin Marwan. Ia juga terpeleset dan masuk ke dalam jurang neraka. Lalu tiba giliran para khalifah yang lain. Saya melihat, satu per satu mereka pun jatuh. Sehingga tidak ada yang sanggup melewati jembatan shiratal mustaqim itu,” kata sang hamba sahaya.

Umar bin Abdul Azis tercekat karena merasakan takut dan khawatir dalam dadanya. Sebab, ia juga seorang khalifah. la sadar, menjaga amanah kepemimpinan dan kekuasaan itu sangat berat. Dan ia punyakin, setiap pemimpin harus bisa mempertanggungjawabkan kepemimpinannya. Tidak ada seorang pun yang akan lolos dari hitungan ALLAH.

Jantung Umar seketika berdegub kencang. Nafasnya memburu. Ia cemas, jangan-jangan nasibnya akan sama dengan para pemimpin lain yangdikisahkan hamba sahaya itu. Karena cemas dan takut, Umar bin Abdul Azis meneteskan air mata. Ia menangis.

“Ya, ALLAH. Apakah aku akan I bernasib sama dengan mereka yang dilihat hamba sahaya ini di dalam mimpinya? Apakah aku telah berlaku tidak adil selama memimpin? Pantaskah aku merasakan surga-Mu, ya ALLAH?” bisik Umar bin Abdul Azis di dalam hati. Air matanya kian deras mengalir.

“Lalu tibalah giliran Anda, Amirul Mukminin,” kata hamba sahaya itu.

Ucapan hamba sahaya itu menambah deras air mata Umar bin Abdul Azis. Umar kian cemas. Kecemasan Umar membuat tubuhnya gemetaran. Ia menggigil ketakutan. Wajahnya pucat. Matanya menatap nanar kesatu sudut ruangan.

Saat itu, Umar bin Abdul Azis mengingat dengan jelas peringatan ALLAH SWT, “Ingatlah pada hari mereka diseret ke neraka atas muka mereka. Dikatakan kepada mereka, “Rasakanlah sentuhan api neraka”

Hamba sahaya itu justru kaget melihat reaksi khalifah Umar bin Abdul Azis yang luar biasa. Dalam hati, ia merasa serba salah. Sebab, ia sama sekali tidak punya maksud untuk menakut-nakuti khalifah. Ia sekadar menceritakan mimpi yang dialaminya.

Melihat kepanikan khalifah, hamba sahaya itu lalu berusaha menenangkan Umar bin Abdul Azis. Namun, Umar bin Abdul Azis belum bisa tenang. Maka, hamba sahaya itu pun meneruskan ceritanya dengan berkata, “Wahai, Amirul Mukminin. Demi ALLAH, aku melihat engkau berhasil melewati jembatan itu. Engkau sampai di surga dengan selamat!”

Mendengar itu, Umar bin Abdul Azis bukan tersenyum apalagi tertawa. Ia diam. Cukup lama Umar tertegun. Cerita itu benar-benar membuatnya berpikir dan merenung.

Ada hikmah yang lalu dipetik Umar dari cerita itu. Dan sejak itu, ia menanamkan tekad untuk lebih berhati-hati dalam amanah kekuasaan. Itu adalah amanah ALLAH yang sangat berat.

Read More ..

10 Wasiat Rasulullah Saw.

Ada 10 wasiat RasulullaaHh kepada putrinya Fathimah binti RasulillaaHh. Sepuluh wasiat yang beliau sampaikan merupakan mutiara yang termahal nilainya bila kemudian dimiliki oleh setiap istri sholehah. Wasiat tsb adalah:

1. Ya Fathimah, kepada wanita yang membuat tepung untuk suami dan anak-anaknya, ALLAH pasti akan menetapkan kebaikan baginya dari setiap biji gandum, melebur kejelekan, dan meningkatkan derajat wanita itu.
2. Ya Fathimah, kepada wanita yang berkeringat ketika menumbuk tepung untuk suami dan anak-anaknya, niscaya ALLAH menjadikan dirinya dengan neraka tujuh tabir pemisah.
3. Ya Fathimah, tiadalah seorang yang meminyaki rambut anak-anaknya lalu menyisirnya dan mencuci pakaiannya, melainkan ALLAH akan menetapkan pahala baginya seperti pahala memberi makan seribu orang yang kelaparan dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang.
4. Ya Fathimah, tiadalah wanita yang menahan kebutuhan tetangganya, melainkan ALLAH akan menahannya dari minum telaga kautsar pada hari kiamat nanti.
5. Ya Fathimah, yang lebih utama dari seluruh keutamaan di atas adalah keridhoaan suami terhadap istri. Andaikata suamimu tidak ridho kepadamu, maka aku tidak akan mendoakanmu. Ketahuilah wahai Fathimah, kemarahan suami adalah kemurkaan ALLAH.
6. Ya Fathimah, apabila wanita mengandung, maka malaikat memohonkan ampunan baginya, dan ALLAH menetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan serta melebur seribu kejelekan. Ketika wanita merasa sakit akan melahirkan, ALLAH menetapkan pahala baginya sama dengan pahala para pejuang di jalan ALLAH. Jika dia melahirkan kandungannya, maka bersihlah dosa-dosanya seperti ketika dia dilahirkan dari kandungan ibunya. Bila meninggal ketika melahirkan, maka dia tidak akan membawa dosa sedikitpun. Didalam kubur akan mendapat pertamanan indah yang merupakan bagian dari taman sorga. Dan ALLAH memberikan pahala kepadanya sama dengan pahala seribu orang yang melaksanakan ibadah haji dan umrah, dan seribu malaikat memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat.
7. Ya Fathimah, tiadalah wanita yang melayani suami selama sehari semalam dengan rasa senang serta ikhlas, melainkan ALLAH mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan pakaian padanya di hari kiamat berupa pakaian yang serba hijau, dan menetapkan baginya setiap rambut pada tubuhnya seribu kebaikan. Dan ALLAH memberikan kepadanya pahala seratus kali beribadah haji dan umrah.
8. Ya Fathimah, tiadalah wanita yang tersenyum di hadapan suami, melainkan ALLAH memandangnya dengan pandangan penuh kasih.
9. Ya Fathimah, tiadalah wanita yang membentangkan alas tidur untuk suami dengan rasa senang hati, melainkan para malaikat yang memanggil dari langit menyeru wanita itu agar menyaksikan pahala amalnya, dan ALLAH mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.
10. Ya Fathimah, tiadalah wanita yang meminyaki kepala suami dan menyisirnya, meminyaki jenggot dan memotong kumisnya, serta memotong kukunya, melainkan ALLAH memberi minuman arak yang dikemas indah kepadanya yang didatangkan dari sungai2 sorga. ALLAH mempermudah sakaratul-maut baginya, serta kuburnya menjadi bagian dari taman sorga. Dan ALLAH menetapkan baginya bebas dari siksa neraka serta dapat melintasi shirathal-mustaqim dengan selamat.


Begitu indah menjadi wanita, dengan kelembutan dan kasihnya dapat merubah dunia.
Jadilah diri-dirimu menjadi wanita sholehah, agar negeri menjadi indah, karena dirimu adalah tiang negeri ini.

Read More ..

Terapi Penyakit ati dalam Tafsiran Islam

Hidup pada zaman sekarang telah menuntut manusia selalu waspada. Mulai dari membuka mata sampai menutup mata kembali, karena manusia sering sekali disuguhiolehkemaksiatan dan dosa.

Beruntunglah bagi mereka yang mampu menghindarinya. Celakalah bagi mereka yang terbawa oleh arus dosa dan kemaksiatan. Karena jika manusia terjebak dalam dosa dan kemaksiatan, berarti manusia telah menanamkan pengaruh berbahaya dan buruk bagi hati. Hati menjadi tertutup, gersang, dan terasa gelap. Kegelapan itu benar-benar nyata di dalam hati, maka seseorang akan jatuh dalam perkara-perkara syubhat dan mengikuti syahwat. Akibatnya seseorang akan jatuh dalam perkara-perkara syubhat yang dapat merusak hati dan menghancurkan hatinya tanpa ia sadari.
Kedua penyakit tersebut telah dijelaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:
“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (QS. Al-baqarah, 2: 10).
Menurut Hamdan Bakran Adz-Dzaky, penafsiran ayat diatas ialah, “…Apabila seseorang individu, akal, fikiran, hati, dan seluruh tubuhnya kotor dan penuh dengan karat-karat kedurhakaan dan dosa kepada Allah SWT, maka seseorang akan mengalami kehancuran dalam kehidupannya…”
Dosa juga dapat mengubah hati, dari sehat dan lurus menjadi sakit dan runtuh. Karena dosa, hati seseorang akan tetap sakit dan payah. Makanan yang bergizi untuk santapan hidup tidak bermanfaat bagi manusia. Bekas penyakit di badan dan dosa merupakan penyakit hati. Tiada obat untuk menyembuhkannya selain meninggalkan maksiat.
Menurut Ibnu Qayyim yang didikutip oleh Salim Bazemool dalam bukunya “Terapi Penyakit Hati” mengatakan, bahwa:
“Orang-orang yang telah datang dan pergi menuju Allah SWT, mereka sepakat bahwa hati tidak diberi cita-cita, sampai seseorang itu kembali menuju Allah SWT, dan hati tidak akan sampai kepada tuhannya kecuali seseorang benar, sehat dan bersih. Keadaan sehat, benar, dan bersih tidak akan tercapai bila penyakitnya tidak berbalik. Di sinilah jiwa membutuhkan obat.”
Bagi kehidupan manusia, setiap penyakit yang diderita olehnya baik itu yang bersifat jasmani maupun rohani dapat diantisipasi oleh terapi yang berdasarkan al-Quran dan As-Sunnah. Dewasa ini, sangat banyak sekali terapi-terapi menjamur terutama di Negara Indonesia. Hal ini dikarenakan kurang responnya pemerintah yang dalam hal ini diwakili oleh Departemen kesehatan terhadap praktek-praktek terapi ilegal yang membahayakan fisik dan fsikis manusia. bagaimanapun juga, Setiap penyakit mempunyai dampak yang tidak baik dan dapat merusak diri maupun merusak lingkungan sekitarnya terlebih lagi penyakit hati.
Karena itulah agama Islam memerintahkankan kepada setiap manusia untuk mengobati setiap penyakit yang dideritanya, khususnya penyakit hati yang kronis. Dalam hal penyakit jasmani sudah banyak yang diketahui dan dipraktekan oleh para dokter-dokter spsesialis. Sedangkan bagi penyakit yang bersifat rohani dalam hal ini adalah penyakit hati belum banyak dokter-dokter mendiagnosinya. di sini sangat diperlukan sekali integrasi pengetahuan seorang dokter terhadap pengetahuan agama dan alam.
Sebagaimana Allah SWT menjelaskan dalam firman-Nya:
“Hai manusia, Sesungguhnya Telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Yunus,10:57).
Sebagaimana Aba Firdaus Al-Hawani dan Sriharini, mengintepretasikan ayat di atas ialah, ”Bahwa agama itu diturunkan oleh Allah untuk obat bagi penyakit-penyakit hati yang ada di dalam dada manusia. Dengan mengamalkan ajaran-ajaran Allah secara sungguh-sungguh, disertai manfaat yang benar sesuai dengan petunjuk al-Qur’an, maka manusia akan dapat menemukan obat bagi penyakit-penyakit di hatinya.”
Dalam agama Islam semua penyakit merupakan Sunnatullah (hukum alam) yang tidak dapat di ganggu-gugat kepada seluruh ciptaan mahkluk-Nya, baik manusia ataupun hewan. Spesifikasi penyakit pada manusia disamping sebagai musibah di dalamnya pun terdapat suatu hikmah yang sangat besar. oleh karena itu, menurut Ibnu Qayyim yang dikutip oleh Abu Affan, beliau berkata, “jika kita menyebutkan hikmah yang terdapat dalam diri kita, pada ciptaan dan kekuasaan-Nya, maka akan kita temukan lebih dari sepuluh ribu hikmah. akal dan pengetahuan kita sangat terbatas untuk dapat menangkap hikmah yang ada balik penyakit. dengan demikian, manusia akan menyadari betapa lemahnya seorang manusia dihadapan Tuhannya.”
Peranan agama dalam kesehatan jiwa seseorang sangat relevan. Dalam hal ini, menurut Abdurrahman M. Al-Isawi, mengatakan bahwa, ”Islam banyak memiliki hal yang mampu menjaga kesehatan manusia secara fisik, akal dan kejiwaannya. Selain itu, Islam menjamin kehidupan harmonis manusia terutama pada dirinya sendiri, serta hidup harmonis bersama masyarakat di sekitarnya; Islam menjamin keharmonisan hidup antara kebahagian dunia dan akhirat.”
Manusia ditempatkan di alam semesta ini agar ia berusaha untuk mengembangkan kemampuannya dan meluaskan cakrawala pemikirannya dengan memperbanyak pengetahuan, dan menguatkan rohaninya untuk mencapai kesempurnaan. Dengan itu manusia diharapkan mampu untuk memenuhi tugas-tugasnya, yang merupakan kewajiban baginya dalam mengukuhkan kepribadian yang sehat dan jujur, demi mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat semakin keras usaha yang dilakukan manusia dalam menempuh di jalan ini. Tak ada yang lebih mampu memberinya keberanian untuk memasuki gelombang kehidupan yang bergelombang dan penuh problema, kecuali kepribadian yang sehat dan keimanan yang kuat.
Langkah yang pertama kearah perkembangan dan penyempurnaan pribadi adalah mempelajari cara-cara memanfaatkan kekuatan dan kemampuan yang tersembunyi pada diri, dan mempersiapkan diri untuk menyingkirkan segala faktor yang menimbulkan masalah dalam menuju jalan kesempurnaan. Kemudian langkah selanjutnya kata-kata dan tindakan tidak mengandung nilai yang berasal dari kedalaman wujud manusia. Kata-kata mengekspresikan kandungan pikiran, seakan-akan merupakan terjemahan dari rahasia-rahasia yang tersimpan di dalamnya.
“Bila perkataan seseorang bertentangan dengan tindakannya, atau tidak bertentangan akan tetapi ingin mendapat pujian dari orang lain yang mendengarkannya, atau ia melakukan sesuatu bukan merupakan keikhlasan hati, tetapi karena ia ingin dipuji oleh orang yang melihatnya, atau orang syirik kepada orang lain. Maka itu menunjukan kepribadian yang goyah dan mengakibatkan kehancuran dalam kehidupan manusia itu sendiri sehingga ia akan merana dan tersiksa di dunia dan di akhirat.”
Manusia diciptakan dari dua unsur, yaitu unsur jasmani dan rohani. Unsur jasmani berupa tanah pada proses penciptaan Nabi Adam A.S. Dari saripati yang hina pada penciptaan manusia sesudahnya. Sedangkan unsur rohani adalah unsur Ilahiyah yang bersumber langsung dari Allah SWT. Unsur materi yang bersifat keberadaan (materi) mendorong manusia untuk memenuhi kebutuhan, makan, minum, pakaian dan sebagainya. Sedangkan unsur rohani yang bersifat immateri, mendorong manusia untuk taat beribadah, mensucikan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kedua unsur ini selalu tarik menarik dalam kehidupan manusia. Bagi unsur jasmani yang tarikannya lebih kuat, maka ketika itu berada dalam penguasan hawa nafsu yang terlalu mendorong untuk berbuat kejahatan.
Hati, dalam al-Quran teraktualisai dalam kata qalb, fu’ad, dan shard. Tetapi, dibandingkan kata fu’ad dan shadr. Al-Quran lebih sering mengkiaskan hati manusia dengan kata-kata qalb, hal ini dapat dilihat dengan penggunaan term tersebut yang tidak kurang dari 132 kali dan termuat dalam 126 surat baik dalam bentuk tunggal maupun jamak.
Terlepas dari seringnya al-Quran menyebut kata qalb daripada kata fu’ad dan shadr tidak menyebabkan kata itu (baca: fu’ad dan shadr) menjadi tereduksi fungsinya. menurut Adz-Dzaky, mengatakan bahwa:
“Ketiga macam kata yang sering dipergunakan di dalam al-Quran secara umum mempunyai pungsi yang sama, yaitu ia sebagai wadah dan media Allah SWT di dalam menampakan ayat-ayat-Nya berupa gambaran dan pemandangan batin yang mengandung isyarat, pelajaran yang tinggi sangat bermakna dan penuh dengan hikmah-hikmah; ia sebagai wadah terbitnya firasat-firasat berupa suara dan bisikan ketuhanan yang mengandung perintah dan larangan, esensi keimanan dan kefasikan, esensi ketauhidan dan kesyirikan; ia sebagai wadah lahirnya rasa cita dan kerinduan, rasa sedih dan gembira, rasa keinsanan dan ketuhanan.”
Dalam konteks bahasa Indonesia terminologi qalb (kalbu) digunakan untuk menyebut hati, baik dalam pemaknaan secara konkrit (fisik) maupun abstrak (psikologis).
Dengan kata lain, “kalbu” adalah manifestasi dari aspek jasadi-rohani (psikofisik) manusia, hanya saja,”kalbu” lebih memiliki tendensi kepada sesuatu yang bersifat keilahian (teosentris). Melalui ”kalbu” manusia tidak hanya mendapat pesan suci Tuhan, tetapi lebih dari itu manusia dapat membenarkan wahyu yang sifatnya supra rasional, sekalipun rasionalitasnya menolak hal seperti itu, sebagaimana manusia membenarkan pengungkapan ayat-ayat Al-Quran tentang adanya transendensi perkara yang gaib, termasuk membenarkan pengalaman spiritual Nabi Muhammad Saw pada peristiwa Isra’Mi’raj. mengutip pendapat Fazlur Rahman, menurutnya, bahwa“…kesadaran akan hal transenden yang pada hakikatnya merupakan kesadaran Ilahiyah akan menciptakan ruang bagi Mi’raj manusia menuju Allah SWT, serta mengembangkan diri manusia itu sendiri. Tanpa itu, manusia akan terkurung dalam kemandekan dan keterbelahan...”
Kemampuan kalbu yang telah menghantarkan pada pengalaman spiritualitas manusia, religiusitas dan ketuhanan telah menjadikan manusia pada tingkat supra kesadaran yang memungkinkannya untuk mengimani wahyu yang bersifat supra rasional dengan berbagai tendensi yang ada.
Inilah yang menjadi pungsi utama dari kalbu, yaitu sebagai alat untuk memahami realitas dan nilai-nilai. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Quran:
“Dan sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”(Qs.al-a’raf,7:179)
Kalbu memiliki karakter yang tidak konsisten/ berubah-berubah (munqalib), seperti; yakin (QS. Al-Hujurat, 49: 17) dan ragu-ragu (QS. Al-Baqarah, 2: 10), menerima petunjuk Tuhan (QS. Al-Taghabun, 79: 11) dan buta dari petunjuk Tuhan (QS. Al-Hajj, 22: 46), merasa takut (QS.An-Naazi’at, 78: 8) ataupun keras melebihi batu (QS.Al-Baqarah, 2: 74). Sebagaimana sabda Rasulullah Saw:
“Sesungguhnya disebut kalbu karena sifatnya yang berubah-rubah.” (HR.Thabrani dari Ibnu Musa)
Lebih lanjut, karakter “kalbu” yang tidak konsisten memungkinkan manusia untuk bisa terkena konflik batin. maka dari itu menarik untuk dikutip ungkapan Ahmad Mubarok beliau mengatakan:
“Interaksi yang terjadi antara pemenuhan fungsi memahami realita dan nilai-nilai (positif) dengan tarikan potensi negatif yang berasal dari kandungan hatinya, melahirkan suatu keadaan psikoligis yang menggambarkan kualitas, tipe dan kondisi dari qalb itu.”
Proses interaksi psikologis itulah yang mengantarkan hati pada kondisi dan kualitas hati yang sebenarnya, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw:
“Sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik maka semua tubuh menjadi baik, tetapi apabila ia rusak maka semua tubuh menjadi rusak pula. Ingatlah bahwa ia adalah kalbu.” (HR. Bukhari dari Nu’man Ibnu Basyir)
Dewasa ini, banyak terjadi perkembangan dalam pelbagai keilmuan. terutama dalam bidang psikologi terus berkembang. dalam hal ini seorang intelektual Muslim Indonesia menjelaskan tentang psikologi, menurutnya, bahwa:
“Psikologi modern telah menemukan berbagai macam ketidaknormalan jiwa seseorang yang mempengaruhi perasaan, pikiran, kelakuan dan kesehatan fisik. Kondisi perasaan yang tidak menyenangkan seperti frustasi (perasaan tertekan), konflik jiwa (pertentangan batin), cemas/ anxiety (semacam ketakutan yang amat sangat, tidak jelas sebabnya dan tidak mudah mengatasinya). Disamping itu dikenal pula gangguan kejiwaan (psycho neurosis) dan penyakit kejiwaan (psikosis).”
Dalam Psikoterapi Islam, semua kelainan tersebut dikatakan dengan satu istilah saja, yaitu ”penyakit hati,” namun tidak diuraikan kedalam kelompok-kelompok penyakit, seperti dipopulerkan oleh pakar Psikiolgi Abnormal belakangan ini.
Memang sebagaimana halnya badan atau lahiriah yang setiap saat bisa diserang penyakit-penyakit fisik, begitupun dengan hati yang tidak tertutup kemungkinan dapat terjangkit penyakit yang secara zahir keberadaannya tidak terlihat oleh mata telanjang, namun hati tetap merasakan penderitaan akibat penyakit tersebut.
Sebagaimana Sayyid Abbad Nuruddin yang dikutip oleh Rudhi Suharto dalam bukunya “Menerbitkan Cahaya Diri”menyebutkan, bahwa “ada empat tingkatan penyakit yang harus dikenali dan diobati. Pertama; penyakit yang menyerang pada bagian fisik. Kedua; penyakit yang berupa khayalan kotor. Ketiga; penyakit yang berada pada akal manusia yang selalu berhubungan dengan hal-hal yang tidak benar. Keempat; penyakit hati.”
Dalam hal ini ada dua tokoh sufi besar yang kedua-duanya sudah tidak asing lagi terdengar ditelinga kaum muslimin timur tengah maupun di Indonesia yang beraliran tasawuf sunni. Mereka adalah Imam al-Ghazali dan Ibnu Taimiyah yang merupakan tokoh penting dalam khazanah pemikiran Islam terutama dalam membahas atau megkaji lebih detail tentang terapi penyakit hati dalam karya-karyanya yang monumental, yaitu kitab Ihya Ulum al-Diin dan Amradh al-Qulub wa Syif’uha. Di samping itu juga mereka dikenal sebagai Intelektual dan Ulama yang telah memberikan kontribusi luar biasa dalam mendidik dan melahirkan generasi pemikir Muslim yang tersebar di seluruh dunia.
Walaupun keduanya berbeda mazhab tetapi mempunyai satu tujuan yang sama, yaitu mengintegrasikan antara Ulama dan Umara. Imam al-Ghazali berpendapat bahwa seseorang yang terindikasi gejala penyakit hati lebih ditekankan pada aspek kelezatan duniawi saja dan menyampingkan sisi-sisi ke ukhrawian. Sedangkan menurut Ibnu Taimiyah seseorang yang cendrung perbuatanya kepada perkara syubhat dan syahwat.

Read More ..

Kisah Bumi dan Langit

Adapun terjadinya peristiwa Isra' dan Miraj adalah karena bumi merasa bangga dengan langit. Berkata dia kepada langit, "Hai langit, aku lebih baik dari kamu karena ALLAH SWT. telah menghiaskan aku dengan berbagai-bagai negara, beberapa laut, sungai-sungai, tanam-tanaman, beberapa gunung dan lain-lain."
Berkata langit, "Hai bumi, aku juga lebih elok dari kamu kerana matahari, bulan, bintang-bintang, beberapa falah, buruj, 'arasy, kursi dan syurga ada padaku."
Berkata bumi, "Hai langit, ditempatku ada rumah yang dikunjungi dan untuk bertawaf para nabi, para utusan dan arwah para wali dan solihin (orang-orang yang baik)."

Bumi berkata lagi, "Hai langit, sesungguhnya pemimpin para nabi dan utusan bahkan sebagai penutup para nabi dan kekasih ALLAH seru sekalian alam, seutama-utamanya segala yang wujud serta kepadanya penghormatan yang paling sempurna itu tinggal di tempatku. Dan dia menjalankan syari'atnya juga di tempatku."
Langit tidak dapat berkata apa-apa, apabila bumi berkata demikian. Langit mendiamkan diri dan dia mengadap ALLAH S.W.T dengan berkata, "Ya ALLAH, Engkau telah mengabulkan permintaan orang yang tertimpa bahaya, apabila mereka berdoa kepada Engkau. Aku tidak dapat menjawab soalan bumi, oleh itu aku minta kepada-Mu Ya ALLAH supaya Muhammad Engkau dinaikkan kepadaku (langit) sehingga aku menjadi mulia dengan kebagusannya dan berbangga."



Lalu Allah S.W.T mengabulkan permintaan langit, kemudian ALLAH S.W.T memberi wahyu kepada Jibrail A.S pada malam tanggal 27 Rajab, "Janganlah engkau (Jibrail) bertasbih pada malam ini dan engkau 'Izrail jangan engkau mencabut nyawa pada malam ini."
Jibrail A.S. bertanya, " Ya ALLAH, apakah kiamat telah sampai?"
ALLAH S.W.T berfirman, maksudnya, "Tidak, wahai Jibrail. Tetapi pergilah engkau ke Syurga dan ambillah buraq dan terus pergi kepada Muhammad dengan buraq itu."
Kemudian Jibrail A.S. pun pergi dan dia melihat 40,000 buraq sedang bersenang-lenang di taman Syurga dan di wajah masing-masing terdapat nama Muhammad. Di antara 40,000 buraq itu, Jibrail A.S. terpandang pada seekor buraq yang sedang menangis bercucuran air matanya. Jibrail A.S. menghampiri buraq itu lalu bertanya, "Mengapa engkau menangis, ya buraq?"

Berkata buraq, "Ya Jibril, sesungguhnya aku telah mendengar nama Muhammad sejak 40 tahun, maka pemilik nama itu telah tertanam dalam hatiku dan aku sesudah itu menjadi rindu kepadanya dan aku tidak mahu makan dan minum lagi. Aku laksana dibakar oleh api kerinduan."
Berkata Jibrail A.S., "Aku akan menyampaikan engkau kepada orang yang engkau rindukan itu."
Kemudian Jibrail A.S. memakaikan pelana dan kekang kepada buraq itu dan membawanya kepada Nabi Muhammad S.A.W.
Wallahu'alam.

Buraq yang diceritakan inilah yang membawa Rasulullah S.A.W dalam perjalanan Isra' dan Mi'raj.

Read More ..

Senin, 21 Juni 2010

Ketika Cinta Terurai dari Perbuatan

Ketika Cinta Terurai Menjadi Perbuatan


Kulitnya hitam. Wajahnya jelek. Usianya tua.
Waktu pertama kali masuk ke rumah wanita itu, hampir saja ia percaya kalau ia berada di rumah hantu. Lelaki kaya dan tampan itu sejenak ragu kembali. Sanggupkah ia menjalani keputusannya? Tapi ia segera kembali pada tekadnya. Ia sudah memutuskan untuk menikahi dan mencintai perempuan itu. Apapun resikonya.

Suatu saat perempuan itu berkata padanya, "Ini emas-emasku yang sudah lama kutabung, pakailah ini untuk mencari wanita idamanmu, aku hanya membutuhkan status bahwa aku pernah menikah dan menjadi seorang istri." Tapi lelaki itu malah menjawab, "Aku sudah memutuskan untuk mencintaimu.
Aku takkan menikah lagi."

Semua orang terheran-heran. Keluarga itu tetap utuh sepanjang hidup mereka. Bahkan mereka dikaruniai anak-anak dengan kecantikan dan ketampanan yang luar biasa. Bertahun-tahun kemudian orang-orang menanyakan rahasia ini padanya. Lelaki itu menjawab enteng, "Aku memutuskan untuk encintainya. Aku berusaha melakukan yang terbaik. Tapi perempuan itu melakukan semua kebaikan yang bisa ia lakukan untukku. Sampai aku bahkan tak pernah merasakan kulit hitam dan wajah jeleknya dalam kesadaranku. Yang kurasakan adalah kenyamanan jiwa yang melupakan aku pada fisik."

Begitulah cinta ketika ia terurai jadi perbuatan. Ukuran integritas cinta adalah ketika ia bersemi dalam hati... terkembang dalam kata... terurai dalam perbuatan...

Kalau hanya berhenti dalam hati, itu cinta yang lemah dan tidak berdaya.
Kalau hanya berhenti dalam kata, itu cinta yang disertai dengan kepalsuan
dan tidak nyata...

Kalau cinta sudah terurai jadi perbuatan, cinta itu sempurna seperti pohon;
akarnya terhunjam dalam hati, batangnya tegak dalam kata, buahnya menjumbai dalam perbuatan.
Persis seperti iman, terpatri dalam hati, terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh perbuatan.

Semakin dalam kita merenungi makna cinta, semakin kita temukan fakta besar ini, bahwa cinta hanya kuat ketika ia datang dari pribadi yang kuat, bahwa
integritas cinta hanya mungkin lahir dari pribadi yang juga punya integritas. Karena cinta adalah keinginan baik kepada orang yang kita cintai yang harus menampak setiap saat sepanjang kebersamaan.

Rahasia dari sebuah hubungan yang sukses bertahan dalam waktu lama adalah pembuktian cinta terus menerus. Yang dilakukan para pecinta sejati disini
adalah memberi tanpa henti. Hubungan bertahan lama bukan karena perasaan cinta yang bersemi di dalam hati, tapi karena kebaikan tiada henti yang
dilahirkan oleh perasaan cinta itu. Seperti lelaki itu, yang terus membahagiakan istrinya, begitu ia memutuskan untuk mencintainya. Dan istrinya, yang terus menerus melahirkan kebajikan dari cinta tanpa henti.

Cinta yang tidak terurai jadi perbuatan adalah jawaban atas angka-angka
perceraian yang semakin menganga lebar dalam masyarakat kita.**


http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs113.snc4/36029_136251949719489_100000040532619_382888_7084681_n.jpg

Read More ..

Menikmati Kritik dan Celaan

Bismillahirrahmanirrahim
Semoga bermanfaat buat temen-temenku yang sedang banyak di cela atau di kritik orang



Kejernihan dan kekotoran hati seseorang akan tampak jelas tatkala dirinya ditimpa kritik, celaan, atau penghinaan orang lain. Bagi orang yang lemah akal dan imannya, niscaya akan mudah goyah dan resah. Ia akan sibuk menganiaya diri sendiri dengan memboroskan waktu untuk memikirkan kemungkinan melakukan pembalasan. Mungkin dengan cara-cara mengorek-ngorek pula aib lawannya tersebut atau mencari dalih-dalih untuk membela diri, yang ternyata ujung dari perbuatannya tersebut hanya akan membuat dirinya semakin tenggelam dalam kesengsaraan batin dan kegelisahan.

Persis seperti orang yang sedang duduk di sebuah kursi sementara di bawahnya ada seekor ular berbisa yang siap mematuk kakinya. Tiba-tiba datang beberapa orang yang memberitahukan bahaya yang mengancam dirinya itu. Yang seorang menyampaikannya dengan cara halus, sedangkan yang lainnya dengan cara kasar. Namun, apa yang terjadi? Setelah ia mendengar pemberitahuan itu, diambilnya sebuah pemukul, lalu dipukulkannya, bukan kepada ular namun kepada orang-orang yang memberitahukan adanya bahaya tersebut.

Lain halnya dengan orang yang memiliki kejernihan hati dan ketinggian akhlak. Ketika datang badai kritik, celaan, serta penghinaan seberat atau sedahsyat apapun, dia tetap tegar, tak goyah sedikit pun. Malah ia justru dapat menikmati karena yakin betul bahwa semua musibah yang menimpanya tersebut semata-mata terjadi dengan seijin Allah Azza wa Jalla.

Allah tahu persis segala aib dan cela hamba-Nya dan Dia berkenan memberitahunya dengan cara apa saja dan melalui apa saja yang dikehendaki-Nya. Terkadang terbentuk nasehat yang halus, adakalanya lewat obrolan dan guyonan seorang teman, bahkan tak jarang berupa cacian teramat pedas dan menyakitkan. Ia pun bisa muncul melalui lisan seorang guru, ulama, orang tua, sahabat, adik, musuh, atau siapa saja. Terserah Allah.

Jadi, kenapa kita harus merepotkan diri membalas orang-orang yang menjadi jalan keuntungan bagi kita? Padahal seharusnya kita bersyukur dengan sebesar-besar syukur karena tanpa kita bayar atau kita gaji mereka sudi meluangkan waktu memberitahu segala kejelekkan dan aib yang mengancam amal-amal shaleh kita di akhirat kelak.

Karenanya, jangan aneh jika kita saksikan orang-orang mulia dan ulama yang shaleh ketika dihina dan dicaci, sama sekali tidak menunjukkan perasaan sakit hati dan keresahan. Sebaliknya, mereka malahan bersikap penuh dengan kemuliaan, memaafkan dan bahkan mengirimkan hadiah sebagai tanda terima kasih atas pemberitahuan ihwal aib yang justru tidak sempat terlihat oleh dirinya sendiri, tetapi dengan penuh kesungguhan telah disampaikan oleh orang-orang yang tidak menyukainya.

Sahabat, bagi kita yang berlumur dosa ini, haruslah senantiasa waspada terhadap pemberitahuan dari Allah yang setiap saat bisa datang dengan berbagai bentuk.

Ketahuilah, ada tiga bentuk sikap orang yang menyampaikan kritik. Pertama, kritiknya benar dan caranya pun benar. Kedua, kritiknya benar, tetapi caranya menyakitkan. Dan ketiga, kritiknya tidak benar dan caranya pun menyakitkan.

Bentuk kritik yang manapun datang kepada kita, semuanya menguntungkan. Sama sekali tidak menjatuhkan kemuliaan kita dihadapan siapapun, sekiranya sikap kita dalam menghadapinya penuh dengan kemuliaan sesuai dengan ketentuan Allah SWT. Karena, sesungguhnya kemuliaan dan keridhaan-Nyalah yang menjadi penentu itu.

Allah SWT berfirman, "Dan janganlah engkau berduka cita karena perkataan mereka. Sesungguhnya kekuatan itu bagi Allah semuanya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Yunus [10] : 65)

Ingatlah, walaupun bergabung jin dan manusia menghina kita, kalau Allah menghendaki kemuliaan kepada diri kita, maka tidak akan membuat diri kita menjadi jatuh ke lembah kehinaan. Apalah artinya kekuatan sang mahluk dibandingkan Khalik-nya? Manusia memang sering lupa bahwa qudrah dan iradah Allah itu berada di atas segalanya. Sehingga menjadi sombong dan takabur, seakan-akan dunia dan isinya ini berada dalam genggaman tangannya. Naudzubillaah!!!

Padahal, Allah Azza wa Jalla telah berfirman, "Katakanlah, Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan. Engkau berikan kerajaan kepada orang Kau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Kau kehendaki. Engkau muliakan yang Kau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Kau Kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu." (QS. Ali ‘Imran : 26)

Read More ..

Contohlah Wanita-Wanita Ini

Sumber: "Tokoh-tokoh Wanita di Sekitar Rasulullah SAW" (terjemahan dari buku "An-Nisaa' Haula Ar-Rasuul") yang disusun oleh Muhammad Ibrahim Salim. Disalin oleh: Hanies Ambarsari.

Fatimah binti Muhammad Saw

Fatimah adalah "ibu dari ayahnya." Dia adalah puteri yang mulia dari dua pihak, yaitu puteri pemimpin para makhluq Rasulullah SAW, Abil Qasim, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim. Dia juga digelari Al-Batuul, yaitu yang memusatkan perhatiannya pada ibadah atau tiada bandingnya dalam hal keutamaan, ilmu, akhlaq, adab, hasab dan nasab.




Fatimah lebih muda dari Zainab, isteri Abil Ash bin Rabi' dan Ruqayyah, isteri Utsman bin Affan. Juga dia lebih muda dari Ummu Kultsum. Dia adalah anak yang paling dicintai Nabi SAW sehingga beliau bersabda :"Fatimah adalah darah dagingku, apa yang menyusahkannya juga menyusahkan aku dan apa yang mengganggunya juga menggangguku." [Ibnul Abdil Barr dalam "Al-Istii'aab"]




Sesungguhnya dia adalah pemimpin wanita dunia dan penghuni syurga yang paling utama, puteri kekasih Robbil'aalamiin, dan ibu dari Al-Hasan dan Al-Husein. Az-Zubair bin Bukar berkata :"Keturunan Zainab telah tiada dan telah sah riwayat, bahwa Rasulullah SAW menyelimuti Fatimah dan suaminya serta kedua puteranya dengan pakaian seraya berkata :"Ya, Allah, mereka ini adalah ahli baitku. Maka hilangkanlah dosa dari mereka dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya." ["Siyar A'laamin Nubala', juz 2, halaman 88]



Dari Abu Hurairah r.a., dia berkata :"Datang Fatimah kepada Nabi SAW meminta pelayan kepadanya. Maka Nabi SAW bersabda kepadanya : "Ucapkanlah :"Wahai Allah, Tuhan pemilik bumi dan Arsy yang agung. Wahai, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu yang menurunkan Taurat, Injil dan Furqan, yang membelah biji dan benih. Aku berlindung kepada Mu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau kuasai nyawanya. Engkaulah awal dan tiada sesuatu sebelum-Mu. Engkau-lah yang akhir dan tiada sesuatu di atas-Mu. Engkau-lah yang batin dan tiada sesuatu di bawah- Mu. Lunaskanlah hutangku dan cukupkan aku dari kekurangan." (HR. Tirmidzi)




Inilah Fatimah binti Muhammad SAW yang melayani diri sendiri dan menanggung berbagai beban rumahnya. Thabrani menceritakan, bahwa ketika kaum Musyrikin telah meninggalkan medan perang Uhud, wanita-wanita sahabah keluar untuk memberikan pertolongan kepada kaum Muslimin. Di antara mereka yang keluar terdapat Fatimah. Ketika bertemu Nabi SAW,Fatimah memeluk dan mencuci luka-lukanya dengan air, sehingga darah semakin banyak yangk keluar. Tatkala Fatimah melihat hal itu, dia mengambil sepotong tikar, lalu membakar dan membubuhkannya pada luka itu sehingga melekat dan darahnya berhenti keluar." (HR. Syaikha dan Tirmidzi)


Dalam kancah pertarungan yang dialami itu, tampaklah peranan puteri Muslim supaya menjadi teladan yang baik bagi pemudi Muslim masa kini.


Pemimpin wanita penghuni Syurga Fatimah Az-Zahra', puteri Nabi SAW, di tengah-tengah pertempuran tidak berada dalam sebuah panggung yang besar, tetapi bekerja di antara tikaman-tikaman tombak dan pukulan-pukulan pedang serta hujan anak panah yang menimpa kaum Muslimin untuk menyampaikan makanan, obat dan air bagi para prajurit. Inilah gambaran lain dari puteri sebaik-baik makhluk yang kami persembahkan kepada para pengantin masa kini yang membebani para suami dengan tugas yang tidak dapat dipenuhi.


Ali r.a. berkata :"Aku menikahi Fatimah, sementara kami tidak mempunyai alas tidur selain kulit domba untuk kami tiduri di waktu malam dan kami letakkan di atas unta untuk mengambil air di siang hari. Kami tidak mempunyai pembantu selain unta itu." Ketika Rasulullah SAW menikahkannya (Fatimah), beliau mengirimkannya (unta itu) bersama satu lembar kain dan bantal kulit berisi ijuk dan dua alat penggiling gandum, sebuah timba dan dua kendi. Fatimah menggunakan alat penggiling gandum itu hingga melecetkan tangannya dan memikul qirbah (tempat air dari kulit) berisi air . Dia menyapu rumah hingga berdebu bajunya dan menyalakan api di bawah panci hingga mengotorinya juga. Inilah dia, Az-Zahra', ibu kedua cucu Rasulullah SAW :Al-Hasan dan Al-Husein.



Fatimah selalu berada di sampingnya, maka tidaklah mengherankan bila dia meninggalkan bekas yang paling indah di dalam hatinya yang penyayang. Dunia selalu mengingat Fatimah, "ibu ayahnya, Muhammad", Al- Batuul (yang mencurahkan perhatiannya pada ibadah), Az-Zahra' (yang cemerlang), Ath-Thahirah (yang suci), yang taat beribadah dan menjauhi keduniaan. Setiap merasa lapar, dia selalu sujud, dan setiap merasa payah, dia selalu berdzikir. Imam Muslim menceritakan kepada kita tentang keutamaan-keutamaannya dan meriwayatkan dari Aisyah' r.a. dia berkata :


"Pernah isteri-isteri Nabi SAW berkumpul di tempat Nabi SAW. Lalu datang Fatimah r.a. sambil berjalan, sedang jalannya mirip dengan jalan Rasulullah SAW. Ketika Nabi SAW melihatnya, beliau menyambutnya seraya berkata :"Selamat datang, puteriku." Kemudian beliau mendudukkannya di sebelah kanan atau kirinya. Lalu dia berbisik kepadanya. Maka Fatimah menangis dengan suara keras. Ketika melihat kesedihannya, Nabi SAW berbisik kepadanya untuk kedua kalinya, maka Fatimah tersenyum. Setelah itu aku berkata kepada Fatimah :Rasulullah SAW telah berbisik kepadamu secara khusus di antara isteri-isterinya, kemudian engkau menangis!" Ketika Nabi SAW pergi, aku bertanya kepadanya :"Apa yang dikatakan Rasulullah SAW kepadamu ?" Fatimah menjawab :"Aku tidak akan menyiarkan rahasia RasulAllah SAW."



Aisyah berkata :"Ketika Rasulullah SAW wafat, aku berkata kepadanya :"Aku mohon kepadamu demi hakku yang ada padamu, ceritakanlah kepadaku apa yang dikatakan Rasulullah SAW kepadamu itu ?" Fatimah pun menjawab :"Adapun sekarang, maka baiklah. Ketika berbisik pertama kali kepadaku, beliau mengabarkan kepadaku bahwa Jibril biasanya memeriksa bacaannya terhadap Al Qur'an sekali dalam setahun, dan sekarang dia memeriksa bacaannya dua kali. Maka, kulihat ajalku sudah dekat. Takutlah kepada Allah dan sabarlah. Aku adalah sebaik-baik orang yang mendahuluimu." Fatimah berkata :"Maka aku pun menangis sebagaimana yang engkau lihat itu. Ketika melihat kesedihanku, beliau berbisik lagi kepadaku, dan berkata :"Wahai, Fatimah, tidakkah engkau senang menjadi pemimpin wanita-wanita kaum Mu'min atau ummat ini ?"
Fatimah berkata :"Maka aku pun tertawa seperti yang engkau lihat." Inilah dia, Fatimah Az-Zahra'. Dia hidup dalam kesulitan, tetapi mulia dan terhormat. Dia telah menggiling gandum dengan alat penggiling hingga berbekas pada tangannya. Dia mengangkut air dengan qirbah hingga . Dan dia menyapu rumahnya hingg berdebu bajunya.



Tatkala suaminya, Ali, mengetahui banyak hamba sahaya telah datang kepada Nabi SAW, Ali berkata kepada Fatimah, "Alangkah baiknya bila engkau pergi kepada ayahmu dan meminta pelayan darinya." Kemudian Fatimah datang kepada Nabi SAW. Maka beliau bertanya kepadanya :"Apa sebabnya engkau datang, wahai anakku ?" Fatimah menjawab :"Aku datang untuk memberi salam kepadamu." Fatimah merasa malu untuk meminta kepadanya, lalu pulang. Keesokan harinya, Nabi SAW datang kepadanya, lalu bertanya : "Apakah keperluanmu ?" Fatimah diam.

Ali r.a. lalu berkata :"Aku akan menceritakannya kepada Anda, wahai Rasululllah. Fatimah menggiling gandum dengan alat penggiling hingga melecetkan tangannya dan mengangkut qirbah berisi air . Ketika hamba sahaya datang kepada Anda, aku menyuruhnya agar menemui dan meminta pelayan dari Anda, yang bisa membantunya guna meringankan bebannya."



Kemudian Nabi SAW bersabda :"Demi Allah, aku tidak akan memberikan pelayan kepada kamu berdua, sementara aku biarkan perut penghuni Shuffah merasakan kelaparan. Aku tidak punya uang untuk nafkah mereka, tetapi aku jual hamba sahaya itu dan uangnya aku gunakan untuk nafkah mereka."
Maka kedua orang itu pulang. Kemudian Nabi SAW datang kepada mereka ketika keduanya telah memasuki selimutnya. Apabila keduanya menutupi kepala, tampak kaki-kaki mereka, dan apabila menuti kaki, tampak kepala-kepala mereka. Kemudian mereka berdiri. Nabi SAW bersabda :"Tetaplah di tempat tidur kalian. Maukah kuberitahukan kepada kalian yang lebih baik daripada apa yang kalian minta dariku ?" Keduanya menjawab :"Iya." Nabi SAW bersabda:


"Kata-kata yang diajarkan Jibril kepadaku, yaitu hendaklah kalian mengucapkan : Subhanallah setiap selesai shalat 10 kali, Alhamdulillaah 10 kali dan Allahu Akbar 10 kali. Apabila kalian hendak tidur, ucapkan Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali dan takbir (Allahu akbar) 33 kali."
Dalam mendidik kedua anaknya, Fatimah memberi contoh : Adalah Fatimah menimang-nimang anaknya, Al-Husein seraya melagukan :"Anakku ini mirip Nabi, tidak mirip dengan Ali."



Dia memberikan contoh kepada kita saat ayahandanya wafat. Ketika ayahnya menjelang wafat dan sakitnya bertambah berat, Fatimah berkata : "Aduh, susahnya Ayah !" Nabi SAW menjawab :"Tiada kesusahan atas Ayahanda sesudah hari ini." Tatkala ayahandanya wafat, Fatimah berkata :"Wahai, Ayah, dia telah memenuhi panggilan Tuhannya. Wahai, Ayah, di surga Firdaus tempat tinggalnya. Wahai, Ayah, kepada Jibril kami sampaikan beritanya."



Fatimah telah meriwayatkan 18 hadis dari Nabi SAW. Di dalam Shahihain diriwayatkan satu hadits darinya yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim dalam riwayat Aisyah. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Majah dan Abu Dawud. Ibnul Jauzi berkata :"Kami tidak mengetahui seorang pun di antara puteri-puteri Rasulullah SAW yang lebih banyak meriwayatkan darinya selain Fatimah."
Fatimah pernah mengeluh kepada Asma' binti Umais tentang tubuh yang kurus. Dia berkata :"Dapatkah engkau menutupi aku dengan sesuatu ?" Asma' menjawab :"Aku melihat orang Habasyah membuat usungan untuk wanita dan mengikatkan keranda pada kaki-kaki usungan." Maka Fatimah menyuruh membuatkan keranda untuknya sebelum dia wafat. Fatimah melihat keranda itu, maka dia berkata :"Kalian telah menutupi aku, semoga Allah menutupi aurat kalian." [Imam Adz-Dzhabi telah meriwayatkan dalam "Siyar A'laamin Nubala'. Semacam itu juga dari Qutaibah bin Said ...dari Ummi Ja'far]




Ibnu Abdil Barr berkata :"Fatimah adalah orang pertama yang dimasukkan ke keranda pada masa Islam." Dia dimandikan oleh Ali dan Asma', sedang Asma' tidak mengizinkan seorang pun masuk. Ali r.a. berdiri di kuburnya dan berkata :


Setiap dua teman bertemu tentu akan berpisah dan semua yang di luar kematian adalah sedikit kehilangan satu demi satu adalah bukti bahwa teman itu tidak kekal Semoga Allah SWT meridhoinya. Dia telah memenuhi pendengaran, mata dan hati. Dia adalah 'ibu dari ayahnya', orang yang paling erat hubungannya dengan Nabi SAW dan paling menyayanginya.


Ketika Nabi SAW terluka dalam Perang Uhud, dia keluar bersama wanita-wanita dari Madinah menyambutnya agar hatinya tenang. Ketika melihat luka-lukanya, Fatimah langsung memeluknya. Dia mengusap darah darinya, kemudian mengambil air dan membasuh mukanya.


Betapa indah situasi di mana hati Muhammad SAW berdenyut menunjukkan cinta dan sayang kepada puterinya itu. Seakan-akan kulihat Az-Zahra' a.s. berlinang air mata dan berdenyut hatinya dengan cinta dan kasih sayang. Selanjutnya, inilah dia, Az-Zahra', puteri Nabi SAW, puteri sang pemimpin. Dia memberi contoh ketika keluar bersama 14 orang wanita, di antara mereka terdapat Ummu Sulaim binti Milhan dan Aisyah Ummul Mu'minin r.a. dan mengangkut air dalam sebuah qirbah dan bekal di atas punggungnya untuk memberi makan kaum Mu'minin yang sedang berperang menegakkan agama Allah SWT.


Beliau adalah sayyidah wanita seluruh alam pada zamannya, putri keempat dari Rasululllah saw dan ibunya Ummahaatul Mukminin Khadijah binti Khuwailid. Allah menghendaki kelahiran Fathimah kurang dari lima tahun sebelum Nabi diutus, dekat peristiwa yang agung, yaitu saat orang-orang Quraisy rela menyerahkan hukum kepada Muhammad tentang perselisihan yang hebat di antara mereka untuk meletakkan Hajar Aswad setelah diadakan pembaharuan Ka'bah.


Rasulullah saw mendapat kabar gembira dengan kelahiran putrinya dan nampaklah barakah dan keberuntungan dengan kelahiran putrinya tersebut. Beliau memberikan julukan kepada Fathimah dengan "az-Zahraa" (bunga). Beliau dikunyahkan pula dengan Ummu Abiha (ibu dari ayahnya). Beliau adalah yang paling mirip dengan ayahnya Muhammad saw.


Fathimah tumbuh dan berkembang dalam rumah tangga nabawi dengan sifat yang baik, lemah lembut, dan terpuji. Dengan sifat-sifat inilah beliau tumbuh di atas kehormatan yang sempurna, jiwa yang berwibawa, cinta akan kebaikan, dan akhlak yang baik dengan mengambil teladan dari ayahnya Rasulullah saw dalam seluruh tindak-tanduknya.


Manakala usia Fathimah mendekati lima tahun, mulailah suatu perubahan besar dalam kehidupan ayahnya dengan turunnya wahyu kepada beliau, sehingga Fathimah turut merasakan awal mula ujian dakwah. Beliau menyaksikan dan berdiri di samping kedua orang tuanya serta membantu keduanya dalam menghadapi setiap bahaya. Beliau juga menyaksikan serentetan tipu daya orang-orang kafir terhadap ayahnya yang agung, sehingga beliau berangan-angan seandainya saja dia mampu, maka akan ditebus dengan nyawanya untuk menjaga beliau dari gangguan orang-orang musyrik. Hanya saja ketika itu beliau masih kecil.




Di antara penderitaan yang paling berat pada permulaan dakwah adalah pemboikotan yang kejam yang dilakukan oleh kaum musyrikin terhadap kaum muslimin bersama Bani Hasyim pada suku Abu Thalib. Sehingga, pemboikotan dan kelaparan tersebut berpengaruh kepada kesehatan beliau. Oleh karena itu, sisa umurnya yang panjang beliau alami dengan fisik yang lemah.


Belum lagi az-Zahraa' kecil keluar dari ujian pemboikotan, tiba-tiba (ibunya) Khadijah wafat yang menyebabkan jiwa beliau penuh dengan kesedihan, penderitaan, dan kesusahan. Setelah wafatnya ibunda, beliau merasakan ada tanggung jawab dan pengorbanan yang besar di hadapannya untuk membantu ayahnya yang sedang meniti jalan yang keras di jalan dakwah kepada Allah. Terlebih-lebih setelah wafatnya pamanda beliau, Abu Thalib, dan istri beliau yang setia yakni Khadijah, sehingga berlipat gandalah kesungguhan Fathimah dalam memikul beban dengan penuh kesabaran dan keteguhan mengharap pahala Allah. Beliau mendampingi sang ayah dan maju sebagai pengganti tugas-tugas ibunya. Dengan sebab itulah Fathimah diberi gelar "Ibu dari ayahnya".



Ketika Rasulullah saw mengijinkan bagi para sahabat untuk hijrah ke Madinah, beliau menjaga rumah yang agung. Tinggal di dalamnya Ali bin Abu Thalib yang mempertaruhkan jiwanya untuk Rasulullah saw. Beliau tidur di tempat tidur Rasulullah untuk mengelabuhi orang-orang Quraisy (agar mereka menyangka, Nabi belum keluar). Selanjutanya, Ali ra menangguhkan hijrah beliau selama tiga hari di Mekah untuk mengembalikan titipan orang-orang Quraisy yang dititipkan kepada Rasullah saw yang telah berhijrah.


Setelah hijrahnya Ali, hanya Fathimah dan saudara wanitanya, Ummu Kultsum, yang masih tinggal di Mekah, sampai Rasulullah saw mengirimkan sahabat untuk menjemput keduanya pada tahun ketiga sebelum hijrah. Ketika itu, umur Fathimah telah mencapai 18 tahun. Beliau melihat di Madinah para Muhajirin dapat hidup tenang dan telah hilang rasa kesepian tinggal di negeri asing. Rasulullah saw mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Anshar, sedangkan beliau ra mengambil Ali ra sebagai saudara.



Setelah menikahnya Rasulullah saw dengan sayyidah 'Aisyah ra, maka orang-orang utama di kalangan sahabat mencoba melamar az-Zahraa', setelah mereka pada awalnya menahan diri karena keberadaan dan tugas Fathimah di sisi Rasullah saw. Di antara sahabat yang melamar az-Zahraa' adalah Abu Bakar dan Umar, akan tetapi Nabi menolak dengan cara yang halus. Kemudian Ali bin Abu Thalib mendatangi Nabi untuk meminang Fathimah. Ali bercerita: "Aku ingin mendatangi Rasulullah saw untuk meminang putri beliau yaitu Fathimah. Aku berkata, 'Demi Allah aku tidak memiliki apa-apa, namun aku ingat kebaikan beliau saw, maka aku beranikan diri untuk meminangnya. Nabi saw bersabda kepadaku, 'Apakah kamu memiliki sesuatu?' Aku berkata, 'Tidak, ya Rasullah.' Kemudian beliau bertanya, 'Lalu, di manakah baju besi al-Khuthaimah yang pernah aku berikan kepadamu pada hari lalu?' 'Masih aku bawa, ya Rasullah,' jawabku. Selanjutnya Nabi saw bersabda, 'Berikanlah baju tersebut kepada Fathimah sebagai mahar'."



Diriwayatkan dari Tsauban ra berkata, "Rasulullah saw masuk ke rumah Fathimah, sedangkan aku ketika itu bersama beliau. Lalu Fathimah mengambil kalung emas dari lehernya seraya berkata, 'Ini adalah kalung yang dihadiahkan Abu Hasan kepadaku', maka beliau bersabda, "Wahai Fathimah, apakah engkau senang jika orang-orang berkata, 'Inilah Fathimah binti Muhammad, sedangkan di tangannya terdapat kalung dari Neraka?', kemudian beliau memarahi Fathimah , lalu beliau keluar tanpa duduk terlebih dahulu. Maka Fathimah mengambil sikap untuk menjual kalungnya, kemudian hasilnya beliau belikan seorang budak wanita, setelah itu beliau merdekakan. Tatkala hal ini sampai kepada Rasulullash saw, beliau bersabda, 'Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan Fathimah dari api Neraka' ."
Oleh karena itu, kedudukan yang diraih oleh Fathimah ra di sisi ayahnya Rasulullah saw tersebut tidaklah menghalangi Rasulullah saw memarahinya,, dan bahwa sekali-kali Rasulullah saw tidak dapat menolong Fathimah dari kehendak Allah. Bahkan, beliau juga memberikan ancaman, seandainya dia mencuri, maka akan ditegakkanlah hukum atasnya, yakni hukum potong tangan. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam hadis tentang seorang wanita Bani al-Makhzumiyah yang mencuri kemudian kaumnya memintakan ampunan agar wanita itu bebas hukuman melalui Usamah bin Zaid bin Haritsah kekasih Rasulullah saw, maka Rasul pun bersabda:


"Demi Allah, seandainya Fathimah binti Muhammad itu mencuri, niscaya aku mesti potong tangannya."
Meskipun kasih sayangnya terhadap Fathimah begitu mendalam, Nabi saw lebih mendahulukan pemberiannya kepada orang-orang fakir-miskin daripada kepada Fathimah, sekalipun dalam keadaan susah. Ali ra berkata kepada Fathimah ra, "Alangkah lelahnya engkau wahai Fathimah, sehingga engkau menyedihkan hatiku. Sungguh Allah telah memberikan tawanan kepada Rasulullah, maka mintalah kepada beliau satu tawanan saja yang akan membantumu dalam bekerja!" Fathimah menjawab, "Akan aku lakukan insya Allah."


Kemudian, Fathimah mendatangi Nabi saw. Tatkala melihat kedatangannya, beliau menyambutnya dan bertanya, "Ada keperluan apa engkau datang ke sini wahai anakku?" Fathimah menjawab, "Kedatanganku ke sini untuk mengucapkan salam buat ayah." Tiba-tiba beliau malu untuk mengutarakan permintaannya, maka beliau pulang dan kembali lagi bersama Ali, lalu Ali menceritakan keadaan Fathimah kepada Nabi saw. Namun, Rasulullah saw bersabda:


"Demi Allah, aku tidak akan memberikan kepada kalian berdua, sedangkan aku membiarkan ahlu sufah dalam keadaan lapar, aku tidak mendapatkan apa-apa untuk aku infakkan kepada mereka, tapi aku akan menjual para tawanan tersebut dan hasilnya aku akan infakkan kepada mereka."


Maka, kembalilah mereka berdua ke rumahnya, kemudian Rasulullah saw mendatangi keduanya. Beliau masuk rumah mereka dan mendapatkan keduanya sedang berselimut yang apabila ditutupkan kepalanya, maka terbukalah kakinya dan apabila ditutupkan kakinya, maka terbukalah kepalanya. Keduanya hendak bangkit untuk menyambut Nabi saw, namun beliau bersabda, "Tetaplah di tempat kalian berdua! Maukah aku beri tahukan kepada kalian tentang sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kalian minta kepadaku itu?" Mereka berdua menjawab, "Mau, ya Rasulullah!" Kemudian beliau bersabda:


"Kuajarkan kepada kalian kata-kata yang diajarkan Jibril kepadaku, ucapkanlah setiap selesai salat fardhu Subhanallah 10 kali, Alhamdulillah 10 kali dan Allahu Akbar 10 kali. Apabila kalian hendak tidur, maka bacalah Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 33 kali. Hal itu adalah lebih baik bagi kalian berdua daripada seorang pembantu."


Maka Ali ra berkata, "Demi Allah, aku tidak meninggalkan kata-kata ini sejak beliau mengajarkannya kepadaku." Salah seorang sahabat bertanya, "Tidak kau tinggalkan juga tatkala malam di Perang Shiffin?" Beliau menjawab, "Walaupun di malam perang shiffin."


Sungguh Fathimah ra telah melalui kejadian-kejadian besar yang ruwet dan sangat keras, hal itu beliau alami sejak usia muda tatkala wafatnya ibu beliau, disusul kemudian saudara perempuannya yang bernama Ruqayyah, kemudian pada tahun 8 Hijriyah wafatlah kakaknya yakni Zainab dan pada tahun 9 Hijriyah menyusul kemudian wafatnya Ummi Kultsum.


Beliau juga menanggung hidup dalam kekurangan dan banyak mengalami kesulitan dan kesusahan. Akan tetapi, seorang wanita yang dibina oleh Rasullah saw tidak akan bersedih hati terlebih lagi berputus asa. Bahkan beliau adalah profil dari wanita yang sabar, konsisten dan muhajirah.


Tatkala Rasulullah saw melakukan haji yang terkhir(Hajjatul Wada') dan telah meletakkan dasar-dasar Islam dan Allah telah menyempurnakan Dienul Islam, Rasulullah saw menderita sakit. Manakala Fathimah mendengar berita tersebut, beliau dengan segera menemui ayahnya untuk menghibur dan menenangkan hatinya, sementara Rasulullah saw ketika itu bersama dengan Ummul Mukminin Aisyah ra. Pada saat nabi saw melihat kedatangan putrinya, dengan riang gembira beliau bersabda, "Selamat datang wahai putriku", kemudian beliau menciumnya dan mendudukkannya di sebelah kanannya atau di kirinya, kemudian Nabi saw membisikkan sesuatu kepadanya sehingga membuat Fathimah menangis dengan tangisan yang memilukan. Namun, ketika Nabi saw melihat kesedihannya, beliau membisikkan kepadanya untuk yang kedua kali, sehingga menyebabkan Fathimah tertawa. Aisyah berkata, Rasulullah saw mengistimewakan engkau dari seluruh wanita anggota keluarganya dalam hal yang rahasia, tapi kamu malah menangis?" Tatkala Rasulullah saw sedang berdiri, Aisyah bertanya, "Apa yang Rasulullah katakan kepadamu" Fathimah menjawab, "Aku tidak akan menyebarkan rahasia Rasulullah saw."


Aisyah berkata: "Ketika Rasulullah saw wafat, aku berkata kepada Fathimah, aku bertekad agar engkau menceritakan kepadaku tentang apa yang telah dibisikkan Rasulullah kepadamu." Fathimah berkata, "Adapun sekarang, baiklah aku ceritakan. Pada saat beliau membisikiku yang pertama, belia mengatakan bahwa biasanya Jibril memeriksa bacaan Alqurannya sekali dalam setahun, akan tetapi sekarang Jibril memeriksa bacaannya dua kali dalam setahun dan beliau merasa ajalnya sudah dekat Maka takutlah kepada Allah dan bersabarlah, sesungguhnya aku adalah sebaik-baik penghulu bagimu. Maka aku menangis dengan tangisan yang engkau lihat. Tatkala beliau melihat aku sedih, beliau membisiki aku untuk yang kedua kalinya, beliau bersabda:


"Wahai Fathimah relakah engkau menjadi ratu bagi para wanita di Sorga? Dan engkau adalah anggota keluargaku yang paling cepat menyusulku." Mendengar kabar tersebut, maka aku pun tertawa.
Semakin bertambahlah rasa sakit yang diderita Rasul saw dan bertambah sedihlah Fathimah. Beliau berdiri di samping ayahnya untuk menjaga dan membantu beliau serta berusaha untuk bersabar. Akan tetapi, manakala Fathimah melihat ayahnya nampak berat dan mulai kesakitan, Fathimah menangis tersedu-sedu dan berkata dengan suara lirih menandakan kesedihan, "Sakit wahai ayah...?" Maka beliau bersabda: "Tidak ada sakit lagi bagi ayahmu setelah hari ini."

Tatkala beliau wafat, Fathimah berkata: "Wahai ayah, engkau telah memenuhi panggilan Rabbmu...Wahai ayah, Jannah Firdaus adalah tempat tinggalmu... Wahai ayah, kepada Jibril kami beritahukan wafatmu."


Ketika Nabi saw dikubur, Fathimah berkata: "Wahai Anas, bagaimana anda tega menimbun ayah dengan tanah?" Maka, menangislah az-Zahraa' ibu dari ayahnya dan menangislah kaum muslimin seluruhnya atas kematian Nabi dan Rasul Muhammad saw dan mereka ingat firman Allah: "Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul."(Ali Imran: 144). Dan firman Allah: "Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu wafat, apakah mereka akan kekal?" (Al-Anbiyaa': 34)
Tidak berapa lama kemudian setelah wafatnya Rasulullah saw, kira-kira enam bulan, az-Zahraa' sakit. Namun, dirinya bergembira dengan kabar gembira yang telah dikabarkan ayahnya bahwa dirinya adalah anggota keluarga yang pertama yang akan bertemu dengan Nabi saw, dan berpindahlah Fathimah keharibaan Allah SWT pada malam selasa, tanggal 3 Ramadhan 11 Hijriyah tatkala beliau berumur 27 tahun.
Semoga Allah merahmati az-Zahraa' Raihanah (bunga yang harum) putri dari penghulu anak Adam, istri dari penghulu para prajurit penunggang kuda dan ibu dari Hasan dan Husein, bapaknya para syuhada' dan ibu dari Zainab pahlawan Karbala'.
Sumber: Nisaa' Haular Rasuuli, Mahmud Mahdi al-Istanbuli dan Musthafa Abu an-Nashr asy-Syalabi

Read More ..

Renungan

Bismillahirrahmanirrahim



Diantara milyaran manusia di muka bumi...


Inilah kami Ya Allah..


Puluhan ribu hamba-hambaMu yang dzoif berlumuran dosa merangkak menuju kepada-Mu..

dengan hati yang serasa hancur mengharap curahan rahmat, ampunan, dan perlindungan-Mu..

Selamatkanlah hidup kami di dunia yang sementara ini, lindungilah kami pada hari tiada perlindungan selain perlindungan-Mu..


Hingga kami sampai ke negeri abadi..
Dalam kasih sayang, maghfirah dan keridhan-Mu..

A..mi..n

Read More ..

Rintihan Hati Seorang Hamba

Bismillah..

Mengingatkan diri sendiri dan saudara semuslim, bersama kita teguhkan hati, mantapkan aqidah dan sinari hati dan jiwa dengan iman dan taqwa..


Bermujahadah melawan nafsu yang senantiasa mengajak kepada kebatilan..

Mudah-mudahan kita tidak terpedaya dengan kesenangan dunia fana ini..
InsyaAllah



"Boleh jadi Allah sudah membukakan pintu ketaatan, tetapi tidak membukakan pintu penerimaan dan boleh jadi Allah mentakdirkan berbuat maksiat yang menyebabkan bertaubat dan dekat kepada Allah..

Sesungguhnya maksiat yang mencetuskan ketundukan dan membuat hati hancur lebih baik daripada ketaatan yang mengakibatkan ketakjuban diri sendiri dan ketakaburan..


Adakalanya sengaja Allah timpakan ujian yang berat keatas hamba-Nya..
Ketika itu hati si hamba akan merintih walaupun bibir bisa mengukir senyum..
Kadang-kadang ujian datang silih berganti ; seolah-olah Allah tidak mendengar rintihan hati hambaNya..


Sebenarnya Allah rindu untuk mendengar rintihan hati si hamba..
Tanpa ujian, hati tidak ingat Allah dan lalai, sehingga hilanglah rasa kehambaan dalam diri..
Lalu karena itu, Allah datangkan ujian silih berganti agar rintihan hati si hamba tidak terputus kepada Tuhannya..

Read More ..

15 Juni 2010

Bismillah

Sedang memikirkan sesuatu, tiba-tiba ingin menulis tentang ini


Benarkah cinta itu ada? Benarkah cinta bisa membawa bahagia?
Kenyataannya, lebih banyak orang yang terluka dan menderita karena cinta.


Mereka bilang cinta tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, mereka bilang cinta hanya bisa dirasakan saja, namun hingga kini aku tak dapat merasakan cinta, aku hanya dapat mengungkapkannya, tentu aku tidak merasakannya.


Banyak yang menuhankan CINTA saat ini, mendahulukan nafsu mereka tanpa memikirkan akibatnya. Mereka telah di rasuki iblis, dan terlena dalam dunia yang fana ini..


Sungguh merugi mereka yang selalu menjadikan hawa nafsu sebagai tuhan mereka..

Thaz
15 Juni 2010
-Pikiran yang kacau-

Read More ..

Not Like This

Bismillah

Hampir selalu berakhir seperti ini

Inilah yang membuatku tak mau memulainya

Ini yang membuatku takut kehilangan ketika sudah memulainya


Ku takut ketika harus mengakhirinya

Ketika kini atau nanti semua telah berakhir maka aku takkan mau memulainya lagi

Aku bukan manusia setegar karang yang mampu menahan deburan ombak dahsyat, aku hanya tumbuhan kecil yang tak mampu hidup tanpa air dan cahaya matahari.


Aku hanya seorang manusia yang hina di hadapan-Nya


Apapun opini kalian tentang diriku, aku mencoba menganggapnya sebagai angin lalu jika itu menyakitkanku.

Jika itu demi kebaikanku, aku akan mengikutinya dengan senang hati.

Apa yang menurut kalian baik untukku, belum tentu baik untukku


Dengarkanlah
ini tentang masa depan kita

jadi ambillah keputusan sebaik mungkin

17 Juni 2010
Ditengah kemelut dunia

Read More ..

Hingga Matahari pun Bosan Menyinariku

Bismillah

I'm so tired
soo.... tired

Why you not understand??

Lama ku menunggu dalam diam

kepastian itu tak kunjung datang juga


padahal ku telah menunggu begitu lama

hingga mentari pun bosan menyinariku dengan cahayanya


17 Juni 2010
21.05

I'am so tired
-Di tengah udara yang menusuk tulang-

Read More ..

Pemuda Palestina

Tiada ku sesal berdiri di pinggiran jalan

Ini negriku, dan kami pantas berontak

Perang takan usai sampai palestina mulia

Kusadari sebiadab apa dirimu
dan kau perlu tau, ada Allah diatas sana

Aku kencang berlari
Biar ku hadang dengan apa yang ku punya

Bunuh saja tubuh ini, biarku syahid itu mati yang mulia
Barisan kami, pemuda Palestina...

Mimpi jika engkau berharap kami berhenti

Perang takkan usai sampai Palestina mulia

Tanah suci ini kelak akan menjadi saat kau terima kehancuran bertubi-tubi..


Free Palestine

Save our Palestine


17 Juni 2010
-Perang takkan usai sampai Palestina mulia-

Read More ..

Sandiwara cinta

Kala cinta pada manusia adalah segalanya

Indahnya impian dan harapan telah membutakan mata

Hingga menipuku dalam sandiwara sempurna dan ku dapat hanya luka mendalam yang sulit kusembuhkan

Ku coba seperti tak ada apa-apa
Ku coba yakinkanku kan baik-baik saja

Akhirnya ku lelah bertahan dan ingin ku curahkan segala rasa kecewa...

Terasa menyesakkan dada kala cinta pada manusia

Dikhianati tinggalkan ku sendiri

Hanya airmata bicara tanda hati hancur terluka Kau masih saja menemani setia

Tiada Kau lelah akan keluhan, tiada Kau marah karena bosan
Mendengarkanku yang telah melupakan-Mu

Aku melupakan-Mu

Kini aku mengerti bahwa cinta-Mu saja yang takkan pernah mengecewakanku




17 Juni 2010
-Di tengah kekecewaanku-

Read More ..

Maaf Tuk Berpisah

Kau tau tentang hatiku yang tak pernah bisa melupakanmu

Kau tau tentang diriku yang selalu mengenangmu selamanya

Kini kusadari bahwa semua itu adalah salah dan juga keliru akan membuat hati menjadi ternodai


Maafkanlah segala khilaf yang telah kita lewati

Telah membawamu ke jalan yang melupakan Tuhan

Kita memang harus berpisah tuk menjaga diri
Untuk kembali arungi hidup dalam Ridho Illahi

Ku tau bahwa dirimu mendambakan kasih suci yang sejati
Ku yakin dirimu merindukan kasih sayang hakiki

dan bila takdirnya kita bersama
Pastilah Allah kan menyatukan kita


Tashiru
17 Juni 2010

-Nyata-

Read More ..

Tokek Tuli Part II

.....Beberapa waktu telah berlalu, para tokek yg tereliminasi pun sudah banyak karena telah jatuh bangun lebih dari tiga kali.

Tinggallah enam tokek sedang berjuang menuju puncak. Anehnya, penonton bukan semakin memotivasi, melainkan memberitahukan bahwa adalah tidak mungkin untuk mencapai puncak yang demikian tinggi sementara badan tokek kecil.
Suara penonton pun mulai berubah. "Sudahlah, tidak mungkin sampai, turun saja!" demikian sorak penonton.

Yang lain mengatakan, "Jangan gara-gara iming2 rumah kau korbankan sesuatu yang mungkin berguna untuk yang lain."

Bahkan, tokek senior yang tidak ikut bermain malah berkomentar, "Zaman saya dulu saja tidak se-"ngotot" ini, yang penting jalan saja seperti rutin."

Sementara itu para petinggi Negeri Binatang mulai ikut bersuara, "Sudahlah tokek, sengaja kami buat perlombaan ini hanya untuk senang2 dam memang dirancang agak sulit.
Jadi, turunlah! Tidak mungkin kamu bisa mencapai puncak!"


masih bersambung...
18 Juni 2010

Read More ..

Tokek Tuli Part I

Bismillahirrahmanirrahim


Peringatan hari kemerdekaan di Negeri Binatang berlangsung meriah dengan acara-acara perlombaan..

Salah satu acara yg paling menarik, yg diletakkan di puncak acara adalah Panjat Pinang untuk para Tokek.

Batang Pinang dilumuri getah salah satu pohon yg licin.
Bedanya dari perlombaan Panjat Pinang biasa, pada perlombaan ini tidak untuk memperebutkan sesuatu di atas dan tidak pula perlu kerjasama.

Perlombaannya sederhana, yakni siapa yg duluan sampai ke puncak pohon pinang, dialah yang menjadi pemenangnya.
Aturannya sederhana, jika ada tokek yg sudah jatuh, msih diberi kesempatan tiga kali untuk tetap naik.
Namun, jika sudah ada tokek yang sampai duluan di puncak, maka pertandingan berakhir dgn tokek yg terlebih dahulu sampai di puncak sebagai pemenang pertamanya.

Total peserta tokek yang ikut sebanyak 25 ekor yang datang dari berbagai wilayah Negeri Binatang.
Selain berpartisipasi memperingati hari kemerdekaan, mereka tampaknya juga tergiur dengan hadiah rumah Tokek yang ditawarkan. Di samping tentunya hadiah-hadiah lain yang menggiurkan.


Ketika juri meniup peluit tanda perlombaan dimulai, maka ke-25 ekor tokek ini langsung berebut naik.
Baru beberapa menit, sudah beberapa tokek yang tergelincir jatuh. Penonton pun semakin histeris melihat perjuangan para tokek yang sangat bersusah payah mencapai puncak.
Ada yang memotivasi, namun lebih banyak yang mencerca serta sok mengatur. Dalam hal ini mungkin penonton jauh lebih hebat dari pemain itu sendiri....

bersambung



18 Juni 2010

Read More ..

Bidadari Bermata Jelita

"Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya." (Ash Shaffat 48)
"Di dalam syurga itu terdapat bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya. Tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka. Tidak pula oleh jin." (Ar Rahmaan 56)
"Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan sebagian pandangannya, dan memelihara kemaluannya. Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya......" (An Nur 32)

Masih hafal kisah Yusuf dan klub bangsawati Mesir yang mengiris-iris jari kan? Bukannya laki-laki GeeR merasa dipandangi. Tapi nyatanya banyak perempuan yg diam2 suka melirik, senyum2, lalu menunduk malu, trus melirik lagi.
Benarkan?

Seringkali, pandangan seorang wanita kepada seorang laki2 tak hanya merusak hati ia yang memandang. Ketika dicampur dengan senyum, tunduk, atau berbisik pada rekan sesama perempuan di sampingnya, lalu bayangan ini tertangkap oleh laki2 yang dipandang atau laki2 yang GeeR merasa dipandang, pasti, ada lagi hati lain yang rusak.

Ya, hati orang yang 'merasa' dipandangi pun bisa hancur menahan penasaran yang kemudian melahirkan prasangka dan rasa.

Terkadang, mungkin perlu bgi kita utk memperingatkan para pria penebar pesona yang membuat risau dan GeeR para kaum Hawa. Bukan apa2, ini demi keamanan kita semua.
Seringkali para ikhwan kita ini tidak sadar kalau mreka telah membuat para akhwat berdebar dan memberi arti lain pada senyum, cara bicara, dan tingkah mereka.

Mudah-mudahan kisah ini memberikan percikan contoh yang bening.
Diriwayatkan bahwa selain masyhur dengan kedalaman ilmunya, Al Hasan Al Bashri jga memancarkan pesona ktampanan yg terindra oleh para wanita. Suatu hari seorang wanita dtng kepadanya untuk meminta fatwa.
"Wahai Abu Sa'id..", begitt ia memanggil dengan kunyah Al Hasan, "Haruskah kaum lelaki menikahi wanita?"

"Begitulah..."

"Bagaimana dgan diriku...?", tanyanya lagi.
Rupanya pada saat bertanya si wanita sempat melihat wajah Al Hasan yang tampan.
"Wahai Abu Sa'id...", serunya kemudian sambil memalingkan pandangannya,
"Janganlah kau goda para wanita dengan wajahmu!"

Al Hasan mengomentari keagungan dan keberanian wanita shalihah ini dgn berkata,
"Andaikata di rumah seorang laki2 da wanita sepertimu, niscaya ia tak lagi merasa membutuhkan dunia."

-Agar bidadari cemburu padamu-
17 Juni 2010
-Iri sama para calon Bidadari-

Read More ..

Find The Way

You give me hope to realize

The reason why and what am I living for

After so long
follow my feet

Looking for live that you have given me

As I remember those days the darkness time

When I was not caring you were there

Now I care to take this way so clear

and I feel so proud to be a muslim guy

And now how so great that I feel
Living up to the light, with you inside my heart

and I could never be the same

without you involve in
On me to try to find the way

Now I believe in anyway

That you will always here inside in my mind
and I believe you'll always hear

An every beat, the trembling of my heart

Everytime I pray I cry for you
and I feel the peacefull of my soul

To obey in every word you say

When the time has come, let me die in your way

Find the way
-edCoustic-
17 Juni 2010

Read More ..

Ingin ku bunuh rasa ini

Ya Allah

ku yakinkan hati ini, bahwa belum saatnya ku mengenal rasa ini

terlalu dini ku mengenal rasa ini, sungguh tak ingin ku merasakannya saat ini

membuat rencana-rencana ku hancur, karena hati ini benar-benar tak karuan..

Ya Allah
ku rasa belum saatnya

tolong enyahkanlah rasa ini dariku

membuat hari-hariku selalu dilanda kerinduan yang tak tertahankan, tersiksa karena terlalu tergantung pada manusia..

Lenyapkanlah rasa ini dari hatiku sekarang

aku tak mau jauh dari-Mu hanya karena seorang manusia yang penuh dengan kelemahan..

Ingin ku bunuh rasa ini, sekarang juga..
Enyahlah kau

pergilah kau dari hidupku

datanglah kembali jika waktunya sudah tepat
entah kapan


20 Juni 2010
-Di tengah kerisauan yang menelusup jiwa-

Read More ..

Kamis, 17 Juni 2010

Enam persoalan manusia menurut Imam Al-Ghazali

Imam Ghozali dikenal sebagai ulama besar. Kitabnya banyak dan hingga kini masih sering dikaji oleh santri Indonesia. Yang paling terkenal adalah Ihya’ Ulumuddin. Ada sebuah kisah menarik tentang ajaran Imam Ghozali seputar persoalan hidup. Ajaran ini termaktub dalam sebuah risalah salaf.
Sahdan, suatu hari, Imam Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Ghozali mengajukan enam pertanyaan pada murid-muridnya.

Pertanyaan Pertama,
“Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?”
Murid-muridnya ada yang menjawab :
orang tua, guru teman dan kerabatnya.
Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah ‘mati’. Sebab itu sudah janji Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. Oleh karena itu sudah siapkah kita mati?. Bekal apakah yang akan kita bawa mati?.



Pertanyaan Kedua,
“Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?”
Murid-muridnya ada yang menjawab :
Negeri China, bulan, matahari dan bintang-bintang.
Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling jauh dengan kita adalah ‘masa lalu’. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh karena itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Allah.

Pertanyaan Ketiga,
“Apa yang paling besar di dunia ini?”
Murid-muridnya ada yang menjawab :
Gunung, bumi dan matahari..
Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah “nafsu”
Justru nafsu yang menguasai diri kita, menyebabkan manusia gagal menggunakan akal, mata, telinga dan hati yang dikaruniakan Allah untuk hidup dengan benar.

Pertanyaan Keempat,
“Apa yang paling berat di dunia ini?”
Murid-muridnya ada yang menjawab :
baja, besi dan gajah.
Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling berat adalah “memegang amanah”
Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung dan malaikat, semua itu tidak mampu ketika Allah meminta mereka untuk menjadi kholifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah, namum manusia lupa akan janjinya pada Allah yang tidak bisa memegang amanah.

Pertanyaan Kelima,
“Apa yang paling ringan di dunia ini?”
Murid-muridnya ada yang menjawab :
kapas, angin, debu dan daun-daunan.
Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling ringan didunia ini adalah “meninggalkan sholat”. Gara-gara pekerjaan dan urusan dunia kita dengan mudah meninggalkan sholat.

Pertanyaan Keenam,
“Apa yang paling tajam di dunia ini?”
Murid-muridnya dengan serentak menjawab :
Pedang…!!.
Imam Ghozali menjawab benar, tapi yang paling tajam adalah “lidah manusia”.Karena manusia dengan begitu mudah menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri. enan

Read More ..